Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Follow Guru Penyemangat di Google News agar tidak ketinggalan tulisan terbaru tentang edukasi, materi belajar, dunia keislaman, soal ujian, motivasi, investasi emas, kesehatan dan fiksi. Klik di sini.
Gulir ke bawah untuk membaca artikel.

Cerpen Keluarga: Syukur Nikmat

Cerpen Keluarga: Syukur Nikmat

Oleh Sri Rohmatiah Djalil

Cerpen Keluarga: Syukur Nikmat
Cerpen Keluarga: Syukur Nikmat. Dok. Canva

Jam besar di ruang tamu berbunyi sebanyak enam kali. Dari arah dapur, Aina yang baru selesai menggoreng tempe, memasak nasi, berteriak tak kalah keras dengan suara jam dinding itu.

"Pak, cepat ajak anak-anak ke mari, sarapan sudah siap!"

Kendatipun penghuni rumah  hanya lima orang, tetapi riuhnya bak pasar loak di siang hari.

Ketiga anaknya yang masih kecil-kecil kerap kali menjerit, teriak jika berebut sesuatu, tertawa jika ada yang lucu.

Selalu ada saja yang mereka ributkan. Ketukan sendok yang dimainkan Aina sebagai pemisah pun seringkali tak digubrisnya. Suaminya Aina, Khalid hanya tersenyum, dia menikmati tingkah polah anaknya.

Setiap peristiwa yang dilakoni putrinya, seolah-oleh itu drama korea yang sayang dilewatkan. Jeritan si Bungsu yang keras melebihi suara presto jika sedang merebus jagung terasa seperti nyanyian rock Iwan Fals. 

"Biarkan mereka bercanda, kelak jika sudah menikah belum tentu bisa kumpul seperti ini," ujar Khalid suatu ketika sebelum berangkat kerja.

"Paaak, kenapa nggak bantu saya memisahkan mereka, malah dianggap bercanda, mereka berantem tahu?" bentak Aina kesal.

"Baiklah, baiklah, bapak bawa si sulung ke sekolah. Ibu momong adik-adiknya di rumah!" seru Khalid.

Namun, solusi yang disodorkan Khalid tidak membuat Aina berseri. Si sulung yang berusia 7 tahun memang setiap pagi ikut bapaknya ke sekokah karena dia sekolah di tempat bapaknya mengajar. 

"Itu wajib, Bapak, si cantik kan sekolah," seru Aina cemberut.

"Lha terus, apa Bapak ngajar bawa si cantik yang bungsu, apa kata Facebook, Bu?"

"Sudahlah, Bapak gak punya akun Facebook saja ko mikirin kata dia,"  sanggah Aina, kali ini dia ingin tertawa jika suaminya berbicara soal Facebook. Aina tahu suaminya tak punya akun media sosial. 

Bagi Khalid, media sosial tidak menarik karena bisa menyita waktunya mencari nafkah. Berbeda dengan Aina yang rajin memberi komentar atas postingan teman-temannya.

Aina sendiri tidak banyak yang ia bagikan selain urusan momong anak, dapur.

Pernah suatu malam menjelang tidur ketika ketiga putrinya terlelap dalam dekapan selimut tebal. Aina mengajak suaminya untuk pelesiran seperti teman-teman onlinenya. Namun, dengan renyah Khalid menolak.

“Kita hidup di dunia nyata, nyatanya kita belum mampu untuk pelesiran ke luar kota,” ujar Khalid.

Dunia nyata, ya … nyatanya sekarang Aina istri Khalid yang harus pandai mengelola gaji. Melupakan pelesiran, melupakan teman-teman online yang besok entah apa yang akan dibagikan, Aina memejamkan mata.

Boleh Baca: Cerpen Hijrahku karena Allah

***

Seperti biasa, setelah menjalankan salat subuh, Aina sibuk menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya dan Khalid.

Walaupun kabarnya tempe langka, kedelai mahal, nyatanya Aina masih menemukan lauk yang super murah itu di warung sebelah.

Kali ini walaupun jam dinding sudah berbunyi enam kali, Aina tidak bisa mengalahkan suara kerasnya karena, putrinya sudah siap di meja makan. 

“Wah, putri bapak cantik sekali pagi ini, sebentar lagi ibu kalian dapat mantu,” canda Khalid sembari melirik istrinya yang menggendong si bungsu. 

“Tempe goreng lagi,” keluh si Tengah tanpa memedulikan ucapan bapaknya.

“Tempe kaya akan protein, Kakak, bersyukurlah, di Jakarta tidak ada tempe,” ujar Aina

“Asyik dong, Bu, tidak ada tempe bisa makan daging,” cetus si Sulung renyah.

Khalid lagi-lagi tersenyum menyaksikan anak dan istrinya. Ini bukan drama Korea atau film India kesuakaan Aina, tetapi kehidupan nyata.

Nyata kalau awal bulan masih dua puluh hari. Itu artinya untuk membeli daging yang harganya juga turut naik masih lama. 

“Kakak harus pandai bersyukur, apa yang kita makan hari ini adalah nikmat yang Allah berikan, tidak boleh mengeluh,” jelas Khalid.

Si Sulung, menganggukkan kepala, matanya menatap sang Ibu yang turut mengangguk dengan senyuman manis. Namun, senyuman Aina bagi Khalid terasa hambar.

“Bu, Bu, sudah jangan tersenyum terus, senyum satu jam pun, teh panas Bapak rasanya gak manis,” canda Khalid.

***

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Cerpen Keluarga: Syukur Nikmat"