Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen: Gadis Bunga Negeri Marsilea

Cerpen Gadis Bunga Negeri Marsilea
Cerpen Gadis Bunga Negeri Marsilea. Gambar oleh Anastacia Cooper dari Pixabay

Hai, Sobat Guru Penyemangat, seberapa sayang dikau kepada ayahmu?

Rasanya, setiap anak pasti memiliki rasa sayang yang menjulang kepada ayahnya, kan. Tambah lagi bila ia merupakan seorang gadis.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa cinta pertama seorang anak perempuan ialah ayahnya.

Ayah adalah cinta sejati seorang gadis dan cinta tersebut tulus tanpa pernah mengecewakan.

Maka dari itulah, ketika ayah membutuhkan sesuatu atau bahkan sakit, seorang gadis akan memperjuangkan yang terbaik untuk kebaikan ayah.

Berikut ada secarik cerpen yang berkisah tentang gadis bunga negeri Marsilea yang ingin menggaungkan bakti kepada ayahnya.

Mari disimak ya:

Cerpen: Gadis Bunga Negeri Marsilea

Oleh Fahmi Nurdian Syah

Seorang gadis tinggal bersama ayahnya di sebuah lembah Negeri Marsilea. Ia bernama Gadis Bunga.

Negeri itu sangat indah, penuh dengan bunga-bunga. Namun, tiba-tiba negeri itu tidak aman, banyak kejahatan yang dilakukan oleh sekelompok penebang liar.

Suatu ketika ayah Gadis Bunga jatuh sakit. Ia tertimpa sebuah batang pohon yang tua. Batang pohon itu mengenai kaki sang ayah ketika berkebun.

Ayah Gadis Bunga mengalami kelumpuhan dan tidak bisa berjalan lagi. 

Ayah Gadis Bunga terlihat kesakitan dengan kaki kiri yang tidak bisa digerakkan. Gadis Bunga yang melihatnya menjadi sedih. Ia dengan sabar merawat ayahnya.

Gadis Bunga tinggal berdua dengan ayahnya saja, ibunya telah lama meninggal dunia. Sekarang ia harus berjuang mencari obat untuk ayahnya agar kaki ayahnya dapat sembuh kembali.  

 “Ayah, aku akan menemui tabib di istana dan meminta ramuan supaya ayah bisa sembuh,” ujar Gadis Bunga menatap ayahnya dengan tak tega. 

Sang ayah tersenyum sekilas, ia hendak bangkit dari posisinya yang berbaring, “Ayahmu ini memang sudah tua. Kau tak perlu bersusah-payah mempersulit dirimu sendiri.” 

“Tidak, Ayah,” ucap Gadis Bunga tertunduk dengan sedih, “Ayah harus sembuh. Ini adalah caraku untuk berbakti kepada ayah, aku akan berusaha mencari ramuan itu.” 

Hati sang ayah terenyuh mendengar penuturan Gadis Bunga. Ia tak rela puteri satu-satunya itu akan pergi menuju istana yang berjarak cukup jauh dari lembah.

Puterinya itu gadis yang penakut. Sang ayah sangat khawatir apabila terjadi sesuatu pada putrinya. namun akhirnya ia mengizinkan Gadis Bunga untuk pergi. 

“Baiklah, Nak. Kau harus menjaga dirimu dengan hati-hati. Dunia luar sana sungguh kejam, Negeri Marsilea kini sedang tidak aman sebab kudengar banyak penjahat yang menginginkan keuntungan dengan melakukan banyak kejahatan,” pesan sang ayah kepada Gadis Bunga.

Boleh Baca: Cerpen Ayahku Cinta Pertamaku

Gadis Bunga mengangguk, ia kemudian menggenggam tangan ayahnya dengan sayang untuk berpamitan. Ia juga sudah berpesan kepada Bibi Lily untuk menjenguk ayahnya.

Bibi Lily adalah tetangganya, ia sering membantu Gadis Bunga menanam bunga-bunga indah di samping rumah. 

Ketika hendak pergi ke istana Kerajaan Marsilea, Gadis Bunga merasa takut. Ia tidak pernah pergi jauh seorang diri.

Gadis Bunga takut dengan hewan-hewan besar, Gadis itu juga takut ketika gelap di malam hari.   

“Aku harus menjadi gadis pemberani, aku ingin ayah segera sembuh dan bisa berjalan lagi. Aku harus mengingat ucapan ayah. Aku harus banyak berhati-hati!” ujar Gadis Bunga.

Ia berjalan dengan gegas, tapak kakinya melangkah penuh tekad. Ia akan menemui tabib istana.

Mentari bersinar dengan terik, Gadis Bunga harus berjalan melewati lembah. Di sepanjang perjalanan ia bertemu banyak sekali bunga-bunga indah.

Gadis Bunga tersenyum melihat bunga-bunga itu bermekaran, ia seolah merasa disambut oleh para bunga.

Saat ini memang sedang memasuki musim semi, para bunga akan bermekaran di kala musim semi. Namun bunga Tulip hanya memiliki waktu tujuh hingga sepuluh hari saja untuk mekar, setelah itu mereka akan kuncup kembali.  

Gadis Bunga berhenti sejenak, ia memandangi salah satu bunga Tulip yang tampak indah. Tangannya sudah terjulur hendak menyentuh kelopaknya, namun ia teringat perkataan ayahnya.

Bunga Tulip
Bunga Tulip. Gambar oleh Couleur dari Pixabay

Ia harus hati-hati. Bunga itu bukan miliknya, tidak seharusnya ia memetik bunga itu tanpa meminta pada yang punya.  

Gadis Bunga pun mengurungkan niatnya. Gadis Bunga kembali melanjutkan perjalanannya. 

Bagaimana pun juga, bunga itu adalah makhluk hidup yang harus diperlakukan seperti manusia dan hewan.

Ia harus berhati-hati untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain. Gadis Bunga tersenyum kembali mengingat wejangan dari ayahnya untuk berhati-hati.   

Begitu hari mulai gelap, Gadis Bunga masih belum tiba di istana Kerajaan Marsilea. Ia merasa gelisah, mukanya pucat sedikit takut.

Dari kejauhan Gadis Bunga menemukan sebuah gubuk tua untuk beristirahat. Ia memasuki gubuk itu, kemudian memakan roti yang tersisa di dalam keranjang kecilnya.

Ia teringat ayahnya, ketakutannya tidak berarti dibandingkan kesakitan ayahnya. Ia tidak akan menyerah untuk menyembuhkan ayahnya.  

Namun betapa terkejutnya Gadis Bunga, ia baru saja terlelap sejenak. Terdengar suara nyaring yang sangat bising di telinganya.  

Ngiiiing… Ngiiiing... 

Terdengar suara gergaji mesin. Gadis Bunga geram, tidak rela melihat lingkungan sekitarnya akan menjadi rusak akibat para penebang jahat itu.

Gadis Bunga segera beranjak lalu dengan perlahan mengintip di balik lubang gubuk tua, ia menghitung jumlah para penebang dan mengingatnya dengan baik.

Salah satunya pemuda berambut coklat yang memakai tudung kepala. Tidak bisa dibiarkan. Ia akan menyampaikan perbuatan jahat itu pada Raja.  

Keesokan harinya, Gadis Bunga kembali melanjutkan perjalanannya. Perjalanan Gadis Bunga akhirnya sampai di istana, ia bertemu dengan tabib istana Kerajaan Marsilea.  

“Wahai Tabib, izinkan aku meminta bantuanmu untuk menyembuhkan ayahku yang sedang sakit di rumah,” terang Gadis Bunga. Ia berujar dengan sedih mengingat kondisi ayahnya. 

“Apa yang terjadi pada ayahmu, Nak?” tanya tabib istana. 

“Ayahku tertimpa pohon besar, kakinya lumpuh dan tidak bisa berjalan lagi. Sudah dua hari aku meninggalkan ayahku sendirian di rumah,” tutur Gadis Bunga. 

“Ayahmu akan sembuh. Akan kuberikan padamu sebuah ramuan,” ucap tabib istana pada Gadis Bunga penuh keyakinan. 

Mata Gadis Bunga berbinar penuh harap, “Benarkah?” 

“Ya, namun kau harus memenuhi sebuah persyaratan dariku. Apa kau bersedia menyanggupinya?” tanya tabib istana.

Ia tersenyum, kemudian melanjutkan perkataannya, “Kau harus menemukan bunga Tulip yang mekar di malam hari. Petik bunga Tulip itu kemudian haluskan dan campurkan ke dalam ramuan ini,” pungkas tabib istana. Ia kemudian menyerahkan botol ramuan obat. 

Gadis Bunga pun menerima botol tersebut, “Baiklah aku akan menyanggupinya, wahai Tabib!” 

Namun bagaimana ia menemukan bunga Tulip yang mekar di malam hari? Semua bunga Tulip tentu saja hanya mekar di siang hari, pikir Gadis Bunga.

Ia lalu berjalan mengelilingi istana Kerajaan Marsilea. Apa yang harus ia lakukan? Ke mana ia dapat menemukan bunga Tulip itu? 

Di saat pikirannya sedang kacau memikirkan bunga Tulip, ada sebuah pengumuman penting dari Raja.

Semua rakyat berkumpul di halaman istana Kerajaan  Marsilea, termasuk Gadis Bunga.

Raja telah menyampaikan titah kerajaan bahwasannya barangsiapa yang dapat mengenali sosok penebang liar yang sedang disidang di halaman istana akan diberikan hadiah sesuai yang diminta.

Di sana terdapat dua pemuda dengan tali melingkari seluruh badannya. 

Jantung Gadis Bunga berdentum kencang. Ia mengenali salah seorang dari dua pemuda itu, pemuda berambut coklat itu adalah orang yang ia lihat di balik gubuk tua.

Gadis Bunga kemudian dengan berani menunjuk si penjahat.  

“Raja Yang Agung, hamba telah menyaksikan perbuatan jahat pemuda ini mengasah gergaji di depan gubuk tua!” ujar Gadis Bunga dengan lantang.

Pemuda itu pun gemetar dan ketakuan, sebab hukuman yang dijatuhkan raja adalah hukuman gantung.  

Setelah kejadian itu pun, Gadis Bunga dipanggil oleh Raja, ia akan mengabulkan segala permintaan Gadis Bunga.

Gadis Bunga pun menyampaikan keinginannya, ia menginginkan bunga Tulip yang mekar di malam hari untuk mengobati sakit ayahnya.

Boleh Baca: Cerpen Ayahku Pahlawanku

“Bunga Tulip yang kau inginkan ialah Tulip Ajaib. Di negeri ini hanya ada satu bunga Tulip Ajaib. Bunga yang mekar di malam hari. Bunga itu memiliki makna kasih sayang yang tak terhingga. Kemarilah, Gadis Bunga. terimalah hadiahmu ini,” ujar Raja. 

Raja pun memberikan bunga Tulip itu untuk Gadis Bunga. Gadis Bunga berterima kasih kepada Raja dan segera pulang menemui ayahnya.

Ayahnya akan sembuh dengan ramuan bunga Tulip Ajaib yang hanya mekar di malam hari. Akhirnya kerajaan pun kembali tentram dan damai.

Para penjahat dan penebang liar satu persatu telah tertangkap. Bunga-bunga dan pohon-pohon di Negeri Marsilea tumbuh dengan indah. 

~ SELESAI ~

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Cerpen: Gadis Bunga Negeri Marsilea"

Promo Cashback & Voucher Shopee