Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Contoh Naskah Ceramah Sedih Tentang Ibu yang Mulai Menua (Download)

Contoh Naskah Ceramah Sedih Tentang Ibu yang Mulai Menua
Contoh Naskah Ceramah Sedih Tentang Ibu yang Mulai Menua. Dok. Gurupenyemangat.com

Hai, Sobat Guru Penyemangat, Bagaimana Kabar Ibumu Hari Ini?

Semoga beliau sehat dan senantiasa berbahagia, ya.

Guru Penyemangat menyadari bahwa ada sejuta cara untuk membahagiakan kedua orang tua, terutama Ibunda tercinta.

Bila kita mundur jauh ke belakang tepatnya pada zaman tabi'in, ada sahabat Nabi Uwais Al-Qarni yang begitu MasyaAllah perjuangannya dalam meninggikan kebaktian terhadap Ibu.

Bahkan, beliau yang seorang fakir tersebut dikenal oleh penduduk langit dan dituangkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW demi menerangkan saking pentingnya berbakti kepada Ibu.

Maka darinya, di sini Gurupenyemangat.com telah menyiapkan ceramah bertema Ibu.

Contoh naskah ceramah sedih tentang Ibu yang mulai menua ini dilengkapi dengan dalil bacaan latin, pantun, serta dokumen PDF yang bisa diunduh.

Baiklah, mari disimak terlebih dahulu ya:

Teks Ceramah Sedih Tentang Ibu yang Mulai Menua Singkat

Teks Ceramah Sedih Tentang Ibu yang Mulai Menua Singkat
Teks Ceramah Sedih Tentang Ibu yang Mulai Menua Singkat. Dok. Gurupenyemangat.com

Berikut Guru Penyemangat sajikan teks ceramah sedih tentang Ibu yang mulai menua yang dilengkapi dengan dalil tulisan Arab dan bacaan latin plus pantun penutup.

Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh

Alhamdulillah, alhamdulillahilladzi arsala rosulahu bilhuda wa dinil haq. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.

Allahumma sholli wa sallim wa barik ala sayyidina muhammad, wa ala alihi wa sohbihi rosulillahi ajma’in.

Hadirin jamaah yang dirahmati oleh Allah SWT;

Pertama di atas segalanya, marilah kita bersyukur atas limpahan nikmat, rahmat, hidayah, serta inayah yang Allah berikan kepada kita. Allah sungguh Maha Kasih lagi Maha Sayang hinggalah rezeki kita dicukupkan tanpa ada kurang sedikit pun.

Shalawat berpadukan salam kita sampaikan kepada Nabi Akhir Zaman, Akhirul Anbiya Muhammad SAW. Mudah-mudahan dengan seringnya lidah ini bershalawat kita akan mendapat syafaat beliau di Hari Pembalasan nanti. Aamiin Ya Robbal ‘Alamin.

Hadirin rahimakumullah;

Pada senyum ini, pada tegapnya badan ini, pada rapinya setrikaan baju dan celana ini, hingga pada harumnya badan ini ada peran malaikat tanpa sayap yang senantiasa menyiapkannya tanpa ada kurang suatu apa pun.

Malaikat ini sengaja Allah utus ke dunia. Ia berdiri dengan lemah, berjalan dengan pelan, berkata dengan lembut, dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan lelah. Bila kita mendengar suasana tidur pada malamnya, sudah pasti terdengar igau-igauan.

Mungkin beliau kedinginan, mungkin kaki dan tangan beliau kepegalan, dan mungkin ada pula pekerjaan beliau yang belum selesai namun badan sudah terasa sangat lelah.

Boleh Baca: Teks Ceramah Ibuku Surgaku

Hadirin yang berbahagia;

Jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia ini, malaikat tanpa sayaplah yang sibuk mengurusi kita. Dalam rahimnya, kita diangkat ke mana-mana, digendong sana-sini, diajak bekerja, diajak mencuci piring, hingga seuntai kesibukan lainnya.

Belum lahir ke dunia saja kita sudah menyusahkan, ya. Bahkan di saat malaikat itu tidur pun kita yang dengan tak berdayanya menendang-nendang perut hanya demi meminta elusan sayang.

Jamaah Rahimakumullah, siapakah yang dimaksud malaikat tanpa sayap tadi?

Benar sekali. Dialah Ibunda yang mengandung kita selama 9 bulan lebih. Dialah Mama yang perutnya rela dibelah demi kesehatan kita saat dilahirkan ke dunia. Dialah Emak yang mengajarkan kita bagaimana caranya tersenyum.

Tertuang dalam QS Al-Ahqaaf Ayat 15:

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ إِحۡسَٰنًاۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ كُرۡهٗا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهٗاۖ وَحَمۡلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهۡرًاۚ 

Bacaan Latin: Wawashshoinal insaana biwaalidaihi ihsaana. Hamalathu ummuhu, kurhan wawadho’athu kurha, wahamluhu, wafishooluhu, tsalaatsuuna syahroo.

Artinya: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.

Hadirin yang berbahagia, ayat di atas menerangkan kesusahan yang diderita oleh Ibunda. Dua kali penegasan susah payah, mulai dari mengandung dan melahirkan kita.

Tapi, mengapa kok masih banyak di antara kita yang dengan entengnya berkata “ah”, “malas ah”, “Ibu aja deh”, dan segunung kalimat penolakan lain yang barangkali melukai hatinya?

Nyatanya, semakin bertambah hari, Ibu kita semakin bertambah tua. Rambutnya mulai memutih, kulitnya mulai keriput, dan tubuhnya yang sudah lelah menjadi semakin payah.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah SWT;

Bila sudah seperti itu, apa saja hal-hal yang harus kita lakukan dalam rangka berbakti kepada kedua orang tua, terutama kepada Ibunda tersayang? Mari kita bacakan lanjutan dari Surah Al-Ahqaaf ayat 15 tadi ya:

حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ  [ الأحقاف:15]

Bacaan Latin: Hattaa idzaa balagho isyuddahu, wabalagho arba’iina sanatan qoola robbi auzi’nii an asykuro ni’matakallatii an’amta ‘alaa wa’alaa waalidayya wa an a’lama shoolihan tardhoohu wa ashlihlii fii dzurriyyatii. Inni tubtu ilaika wa inni minalmuslimiin.

Artinya: sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". [Al Ahqaf:15]

Hadirin rahimakumullah, dalam ayat di atas bisa kita tangkap bahwa usia 40 tahun adalah usia yang sudah tua dan di saat itu pula Allah memerintahkan kita untuk meninggikan syukur, mencari ridho kedua orang tua dalam berbuat kebaikan, serta mendoakan keduanya sembari bertaubat.

Sungguh, ridhollohi wa ridho walidain; ridho Allah bergantung kepada ridho kedua orang tua.

Boleh Baca: Teks Ceramah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Hadirin yang berbahagia;

Ibunda yang masih muda, badannya masih energik. Kerjanya masih cepat dan rapi, bahkan lipatan pakaiannya juga masih rapi.

Ayahanda yang masih muda, kerjanya masih lincah. Perjuangannya mencari nafkah masih begitu semangat dan rela begadang.

Tapi ketika keduanya sudah tua? Semua pekerjaan ringan di rumah mulai terasa berat di pundak mereka. Bahkan makan pun susah. Dan sedihnya, semakin Ibunda bertambah tua, mereka mulai kesepian karena anak-anaknya sudah jauh dari pangkuan mereka.

Ada dari kita yang sedang kuliah di luar provinsi, dan ada pula anak yang sudah menikah.

Hadirin yang dirahmati Allah;

Di saat Ibunda mulai menua, di saat itu pula kesempatan kita untuk berbakti menjadi tinggal sedikit lagi. Mari kita maksimalkan ketaatan untuk menyenangkan kedua orang tua, karena sebesar apa pun perjuangan kita belum akan mampu menggantikan jasa mereka.

Demikianlah ceramah yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Banyak maaf atas segala khilaf dan salah. Unzur ma qola wala tanzun man qola. Saya tutup dengan pantun:

Pergi ke warung aku beli roti
Rotinya ada rasa cokelat dan moka
Sayangi ibumu sepenuh hati
Berbaktilah di sisa-sisa umur mereka

Wassalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh

Download Ceramah Sedih Tentang Ibu PDF

Selain daripada sajian di atas, Guru Penyemangat pula sudah menyiapkan dokumen PDF naskah ceramah sedih yang berkisah tentang Ibu yang mulai menua dan cara kita berbakti kepadanya.

Silakan klik link unduhan berikut bila kamu memerlukan dokumen PDF ceramah bertema Ibu.

Teks Ceramah Sedih Tentang Ibu PDF

***

Demikianlah tadi secarik sajian Guru Penyemangat tentang contoh naskah ceramah sedih bertema Ibu yang mulai menua.

Teks ceramah di atas bisa kamu manfaatkan sebagai bahan kultum, tausiyah, hingga pelengkap materi lomba dalam rangka pildacil.

Semoga bermanfaat, ya. Salam.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

4 komentar untuk "Contoh Naskah Ceramah Sedih Tentang Ibu yang Mulai Menua (Download)"

Gustyanita Pratiwi 12 Desember, 2021 16:30 Hapus Komentar
jadi inget dulu pas kecil pernah bandel disuruh jemput adek di tempat tetangga aku malah ga mau tetus mecahin kaca hahhahahha...itu moment paling membekas waktu kecil lagi bandel bandelnya..Sekarang ibu udah makin sepuh kadang pengen bahagiain dengan sesuatu yang bikin beliau bangga punya anak kayak aku...walaupun aku tipenya kalau sama orang tua suka susah ngungkapin rasa sayang hahahha
Sri Rohmatiah 13 Desember, 2021 17:46 Hapus Komentar
Berbahagia yang masih punya Ibu. 😭
Guru Penyemangat 15 Desember, 2021 10:20 Hapus Komentar
Hahaha
Berkesan banget ya Mbak. Mungkin itu kerjaan yg paling nakal bin ngeselin. Wkwk

Aduh, sayang dalam diam nih. Biasanya ayah yg suka mencintai dalam diam. 🤭
Guru Penyemangat 15 Desember, 2021 10:21 Hapus Komentar
Doa anak saleh juga membahagiakan, Bu.😆