Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen: Masih Ada Harapan di Tahun Baru

Cerpen: Masih Ada Harapan di Tahun Baru
Cerpen: Masih Ada Harapan di Tahun Baru. Gambar oleh Charles Thompson dari Pixabay

Tahun 2022 telah tiba, Sobat Guru Penyemangat sudah menetapkan resolusi?

Hayooo, jangan-jangan masih berteman dengan tahun 2021 dengan segenap kisah duka dan sesalnya?

Hahaha. Semoga tidak, ya. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa tahun baru merupakan pijakan bagi diri untuk menebar harapan yang baru.

Harapan bukan sekadar harapan karena sesuatu yang ada dalam kata dan angan hanya akan berakhir sebagai wacana.

Dengan demikian, apa yang kita harapkan dan resolusikan perlu dibarengi dengan usaha bin tindakan, kan?

Begitulah.

Nah, berikut Gurupenyemangat.com sudah siapkan cerpen yang bertema tentang resolusi tahun baru.

Cerpen berikut berkisah tentang utas harapan di tahun baru terutama untuk perbaikan diri menuju pribadi yang lebih baik dan bijaksana.

Mari disimak ya:

Cerpen: Masih Ada Harapan di Tahun Baru

Oleh Sri Rohmatiah Djalil

"Jangan pergi, Nak!" cegah sang Ibu penuh harap.

Namun, Lukman tidak menghiraukan ibunya. Disautnya kunci motor yang tergantung di sebelah pintu kamar.

Tangan kekarnya meraih jemari sang Ibu lalu diciumnya penuh kelembutan. 

"Ibu sendiri di rumah, Nak, ayahmu lembur," cegahnya lagi. 

"Bu, ini malam tahun baru, aku hanya ke kafe untuk merayakannya. Satu tahun sekali kan, Bu," terang Lukman.

Perayaan tahun baru bagi remaja seperti Lukman sangat berarti. Bagi ibunya tiada arti. Namun, sang Ibu tidak bisa menahan lagi keinginan putranya untuk pergi.

Sementara Lukman bergegas menuju garasi. Tak berapa lama terdengar suara klakson motor ditujukan ke ibunya. Tangan Kakan melambai tanda perpisahan.

Entah mengapa tidak seperti biasanya, mata sang Ibu menatap terus ke mana roda dua itu meluncur. 

Dia baru beranjak masuk rumah setelah punggung Lukman tak tampak. Mendesah berat, tanda tak ikhlas melepas putra semata wayangnya.

Tempat terpisah, teman-teman Lukman sudah menunggu dengan gelisah di kafe I-Club.

"Si Lukman datang tidak nih, aku sudah pesan kopi paling enak," ujar Roby.

Halim hanya mengangkat bahu. 

"Kamu telepon si Lukman, Lim!" Kembali Roby bersuara setelah diam sesaat.

Lagi-lagi hanya mengangkat bahu tanpa ekspresi. Tingkah Halim membuat Roby emosi. Suaranya meninggi.

"Hai, Lim, telepon si Lukman, jangan sampai kita ditandur di kafe ini berdua saja hingga ganti tahun." 

"Alaaahh pergantian tahun saja tinggal beberapa jam lagi. Emosian banget sih," seru Lukman tiba-tiba.

"Hai, kamu sudah datang, bilang-bilang dong kalau sudah ada di sini!" Halim membuka suaranya dengan girang.

Mereka tertawa hingga tampak gigi putihnya bersinar terkena pancaran lampu hias. 

"Apa yang akan kita lakukan di kafe ini, Rob?" tanya Lukman.

Ilustrasi Kafe Tempat Ngopi
Ilustrasi Kafe Tempat Ngopi. Gambar oleh Geoff Gill dari Pixabay

Mereka duduk bertiga dengan tiga gelas kopi kintamani sebagai khas kafe I-Club. Konon kopi ini diracik masih memakai metode tradisional dengan menggunakan sistem air di Bali.

Lukman menempelkan mulutnya di bibir gelas. Sesaat dia menikmati aroma unik dari kopi, jeruk citrus.

"Luk, jangan lama-lama seruput kopinya!" bentak Roby.

"Kamu bisanya marah. Coba sabar masukkan di daftar resolusi tahun 2022!" canda Lukman.

"Kamu kayak gak ngerti adat Roby saja, dia suara saja yang keras hatinya selembut salju," seru Halim.

Boleh Baca: Cerpen Tahun Baru Tentang Riangmu Adalah Sedihnya

Mereka kembali tertawa, obrolan ketiganya nyaris tak ada makna. Lukman seringkali mengingatkan mereka untuk membicarakan resolusi mendatang. Terutama perkembangan komunitasnya. 

Namun, lagi-lagi Roby mengelak,

"Lupakan anak jalanan sesaat, kita nikmati pergantian tahun baru. Mereka juga lagi menikmati kebebasan dunianya di jalanan."

Tepat pukul 00.00 sesaat mereka terdiam. Entah doa apa yang dipanjatkan. Hanya mereka yang tahu. 

Lukman berdiri dan beranjak meninggalkan kedua temannya yang masih asyik menikmati seruputan terakhir akhir tahun. 

"Lukman, ke mana kau?" teriak Roby.

"Aku merasa ibuku memanggil, cabut ya!" Lukman berlalu tanpa menunggu jawaban kedua temannya.

Jalanan kota masih sepi, orang-orang masih menikmati awal tahun dengan canda gurau di tempat yang mereka suka.

Motor melaju kencang tanpa terkendali. Hingga sebuah benturan menimpa pembatas jalan.

"Allahu Akbar!" Suara takbir memecah kesunyian malam. 

Tahun baru harapan baru untuk Lukman karena kedua tangannya tak bisa digerakkan. Dia menatap langit-langit rumah sakit. 

Menyesal pun sudah tiada arti. Namun, tak akan kehilangan resolusi apalagi evaluasi diri. Dia hanya butuh motivasi dari Sang Ibu yang sedang menatapnya  dengan cinta kasih.

Boleh Baca: Cerpen Menadah langit di Malam Tahun Baru

***

Nah, demikianlah tadi secarik cerpen yang berkisah tentang harapan di tahun yang baru karya Sri Rohmatiah Djalil.

Semoga menginspirasi, ya.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

1 komentar untuk "Cerpen: Masih Ada Harapan di Tahun Baru"

Sri Rohmatiah 31 Desember, 2021 21:28 Hapus Komentar
Selamat tahun baru 2022, Sukses selalu GP