Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Tahun Baru: Menadah ke Langit di Malam Tahun Baru

Tahun baru segera tiba?

Begitulah. Desember tahun 2021 sudah mau habis dan kalender Januari tahun 2022 mulai berseliweran di sekitar kita.

Banyak orang segera bersiap menjemput tahun baru, bahkan tidak sedikit pula dari kita yang ingin melaksanakan perayaan besar, kecil atau hanya perayaan sederhana.

Tapi…perayaan di mata beberapa orang sebenarnya tidak terlalu penting, kan?

Guru Penyemangat pula memandang demikian. Bukan tanpa alasan, karena perayaan sering kali menjadi formalitas belaka ketika sangat sedikit kebermanfaatannya.

Maka dari itulah, di sini Gurupenyemangat.com bakal menghadirkan cerpen tentang tahun baru.

Cerpen yang bertema tahun baru berikut berkisah tentang pentingnya doa sembari mengadakan kegiatan yang bermanfaat untuk diri dan keluarga.

Oke, mari disimak ya:

Cerpen: Menadah ke Langit di Malam Tahun Baru

Fahmi Nurdian Syah

Cerpen Tahun Baru: Menadah ke Langit di Malam Tahun Baru
Cerpen Tahun Baru: Menadah ke Langit di Malam Tahun Baru. Gambar oleh Tom Hill dari Pixabay 

Desember, salah satu bulan yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya oleh para siswa. Selain libur panjang semester yang mereka dapatkan, mereka juga akan merayakan sebuah hari di mana yang hanya bisa dirayakan setahun sekali.

Iya, apalagi kalau bukan malam perayaan tahun baru. 

Kebanyakan orang-orang biasanya akan keluar rumah dan pergi ke alun-alun atau pusat kota saat di malam pergantian tahun telah tiba. Pesta kembang api pun sudah lumrah terjadi dan tak asing lagi di telinga.

Namun, kegiatan seperti itu tak pernah dilakukan oleh seorang lelaki yang sedang menempuh masa remaja ini.

Bukan karena tak punya teman atau tidak ada yang mau mengajak, tetapi dialah yang selalu menolak ajakan temannya demi melakukan perayaan malam tahun baru berdasarkan versi dia sendiri. 

Malam tahun baru ini saudara Kahfi berkumpul di rumahnya. Meskipun terlihat sangat sederhana, namun inilah yang dinanti.

Berkumpul bersama keluarga yang jarang sekali bertemu merupakan nikmat yang tak biasa. Lantaran semua pasti merasa sangat bahagia dengan indahnya kebersamaan ini. Meluapkan seluruh rasa rindu yang mungkin sudah mereka timbun selama tak bertemu.

Boleh Baca: Cerpen Tentang Hijrahku karena Allah

Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, saudara Kahfi pun satu per satu berpamitan pulang.

Suasana yang ramai di ruang tamu dengan obrolan ringan dan senda gurau pun seketika lenyap. Kini telah menjadi hening, karena letak rumahnya yang agak berada di pedalaman dan lumayan jauh dari jalan raya. Kemudian Kahfi pun berjalan menuju ke kamarnya. 

Dulu, ketika setiap malam tahun baru tiba Kahfi ingin merayakan malam akhir tahun dengan kenangan yang indah bersama teman-temannya, Namun orang tuanya selalu melarangnya. 

"Buat apa kamu merayakan malam pergantian tahun baru dengan meriah?" tanya ayahnya saat itu. 

Dan Kahfi menjawab, “Ayah, Aku kan hanya ingin bersenang-senang, bermain, dan berpesta bersama teman-teman, lalu kenapa Ayah malah berkata seperti itu seperti melarangku untuk bergaul bersama temanku?"  

“Nak, mengertilah! Selagi masih ada saudara, hendaklah kita bercengkrama silaturahmi dengan mereka. Bukannya Ayah melarang kamu untuk bergaul bersama temanmu, tapi supaya kamu juga bisa kenal dekat dengan saudara-saudaramu itu. Apa kamu tak ingin berkumpul dengan saudaramu yang jarang sekali bertemu?" 

Setelah mendengar ucapan ayahnya, Kahfi tak berani melontarkan sepatah kata, ia berpikir setiap ucapan ayahnya memang benar.

Setelah kejadian itulah Kahfi selalu menolak ajakan temannya untuk pergi ke pusat kota merayakan malam tahun baru.  

Waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam dini hari. 

Doorr... Doorr... Doorrr... 

Kahfi yang sudah tertidur nyenyak di kamarnya seketika langsung terbangun karena suara kembang api yang terdengar begitu meriah.

Ia mengucek matanya lalu berjingkat dari tempat tidurnya. Kemudian berjalan ke belakang untuk mengambil air wudu. Setelah itu ia melaksanakan sholat malam.

Doa Akhir Tahun
Doa Akhir Tahun. Gambar oleh Artadya Gumelar dari Pixabay

Setelah selesai melakukan sholat, dengan posisi yang masih tahiyat akhir ia menadahkan tangannya ke langit berdoa kepada sang Khaliq tentang harapannya di tahun baru ini.

Pertama, Kahfi bersyukur karena masih diberi kesempatan bernafas sampai detik ini. Kemudian ia berharap supaya menjadi orang yang jauh lebih baik lagi dari tahun sebelumnya, bisa lebih patuh kepada kedua orangtuanya, dan juga lebih semangat dalam mencari ilmu supaya mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Boleh Baca: Cerpen Tentang Seseorang yang Ingin Dirindukan Penduduk Langit

Tak lupa juga ia berdoa untuk keluarga dan sanak-saudaranya di tahun baru ini. Ia berharap semoga mereka selalu dalam lindungan-Nya, selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan dijauhkan dari segala marabahaya.

Kemudian yang terlebih untuk kedua orangtuanya, semoga ibu dan ayahnya diberi umur yang panjang supaya bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan kesuksesan Kahfi di masa yang akan datang. 

Setelah selesai berdoa ia berjalan menuju ke kamar untuk melanjutkan tidurnya.

~Selesai~

Nah, demikianlah cerpen tahun baru yang bisa Guru Penyemangat sajikan dalam kesempatan ini. Pergantian tahun baru bukanlah sekadar angka melainkan makin cepatnya siswa waktu untuk introspeksi.

Salam.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

1 komentar untuk "Cerpen Tahun Baru: Menadah ke Langit di Malam Tahun Baru"

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.

Diperbolehkan mengutip tulisan di blog Guru Penyemangat tidak lebih dari 30% dari keseluruhan isi (1) artikel dengan syarat menyertakan sumber. Mari bersama-sama kita belajar menghargai karya orang lain :-)

Promo Cashback & Voucher Shopee