Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen: Harapan Ibu

Hai, Sobat Guru Penyemangat, Bagaimana Kabar Harapanmu Hari Ini?

Bila kita renungkan sejenak, kenyataannya hidup ini bisa kita lalui karena adanya harapan. Bermula dari rasa ingin, siapa pun manusia di dunia ini akan meninggikan perjuangannya.

Bila berhenti berharap? Ya sudah. Barangkali kita akan singgah di istilah yang sering dilantunkan banyak orang, "Hidup tapi Mati". Eh

Syahdan, bagaimana dengan harapan seorang Ibu?

Tadi, saat sedang mengoreksi hasil ujian siswa di sekolah, Guru Penyemangat sempat mendengar harapan seorang guru senior. Beliau mengatakan seperti ini:

"Aku tidak mau banyak harap, kok. Yang penting bagiku adalah doa anak yang saleh, agar kematianku  nanti tidak gelap dan sepi."

Nah, kebetulan sore ini Gurupenyemangat.com mendapat kiriman cerpen yang "pas banget" dari jauh.

Cerita pendek berikut berkisah tentang harapan seorang ibu. Apakah untuk masa depan anaknya, atau untuk melihat senyum yang lebih indah? Oke, mari kita simak.

Cerita Pendek Tentang Ibu: Harapan Ibu

Oleh Sri Rohmatiah Djalil

Cerita Pendek tentang Harapan Ibu
Cerita Pendek tentang Harapan Ibu. Gambar oleh Huỳnh Mai Nguyễn dari Pixabay

Suasana warung sayur masih sama seperti pagi sebelumnya, ramai dengan ibu-ibu yang asyik memilih bahan makanan untuk dimasak sebelum mereka berangkat ke sawah.

Bu Surti yang masih memakai mukena tidak ketinggalan berada di barisan depan. Katanya, jika pulang dulu berganti pakaian antrian akan panjang, ke sawah terlambat, anak sekolah pun telat. “Ah… ada-ada saja Bu Surti, memangnya sawah ada jam masuk?” tanya Mbak Irah.

“Lha… ya ada toh, Mbak Irah, buruh tani juga kudu disiplin. Nyemplung sawah jam tujuh, istirahat jam dua belas sampai jam siji,” jelas Bu Surti.

“Wah… enaknya, mulih bisa masak untuk anaknya. Eh … ngomong-ngomong, Siti mulih jam berapa, Bu Surti?” tanya Mbak Irah yang sama-sama nunggu antrian.

“Ya… gak ngerti toh, Mbakyu Rah, bada salat Zuhur aku wes ke sawah lagi. Mulih sore, Siti wes ada di rumah.”

Mbak Irah yang diajak ngomong, manggut-manggut, dia tampak kagum dengan kegigihan Bu Surti. Penduduk kampung sudah tahu kalau Bu Surti pekerja keras. Setelah suaminya meninggal dua tahun lalu, dia garap sawah, padahal awalnya hanya ibu rumah tangga. 

Bukan sawah pribadi, tetapi, lahan majikannya. Jika musim sawah selesai, dia akan berocok tanam di kebun pinggir sungai. Bukan tanah miliknya juga, lahan itu milik pengairan.

“Bu Surti, aku sering lihat anakmu, Siti di mal bareng teman-temannya,” ujar Mbak Irah membuyarkan lamunan Bu Surti.

Bu Surti terperanjat kaget. Anak gadisnya yang masih duduk di kelas enam Sekolah Dasar, berani ke kota yang jaraknya 9 km. Ingin tidak percaya, tetapi, Mbak Irah adalah penjaga gerai baju anak di mal itu.

Dia pasti memperhatikan pengunjung, walaupun tidak semua orang ketangkap matanya, paling tidak wajah Siti, mudah diingatnya.

Boleh Baca: Cerpen Tentang Kasih Sayang Ibu kepada Anaknya

Masih dalam kebingungan Bu Surti mengorek informasi lebih tajam, setajam silet. “Di mal, Siti ngapain, Mbak?”

“Kelihatannya hanya jalan-jalan, lihat baju yang tertata. Sering lho, Bu, hanya aku gak berani menegur, khawatir Siti malu.” 

Sesaat mereka diam hingga rolling door warung dibuka oleh pemiliknya. Bu Surti segera masuk dan mengambil tempe, tahu. Setelah membayar, dia bergegas pulang, tanpa pamit kepada pembeli yang sudah bergerombol, termasuk Mbak Irah. 

“Mungkin dia terburu-buru,” gumam Mbak Irah.

***

Perapian masih menyala kecil, di atasnya ada panci besar berisi air. Sebagian kayu bakar sudah dikeluarkan supaya api tidak semakin membara. Itu aktivitas terakhir di pawon dan dia akan segera pergi ke sawah dengan memakai kaos biru berlengan panjang.

Namun, pagi itu Bu Surti membiarkan kaos tetap berada di tempatnya.

“Mamak, ini sudah terang, tidak ke sawah?” tanya Siti yang sudah dandan rapi dengan seragam putih merah.

“Bubar sekolah jam berapa, Siti?” Bu Surti balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Siti, anaknya.

“Seperti biasanya, Mak, jam empat sore,” 

Anaknya sering mengatakan itu, jam empat sore, Bu Surti percaya, tetapi, untuk hari ini dia ragu setelah mendengar laporan dari Mbak Irah si penjaga mal.

Untuk membuktikan informasi dari Mbak Irah, setelah salat Zuhur, Bu Surti tidak ke sawah lagi. Dia mengambil sepeda mini tua warisan dari suaminya.

Cuaca siang itu amat panas, tetapi tidak mengurungkan niatnya untuk ke mal menemui Mbak Irah. Sebenarnya dia tidak tahu persis di sebelah mana gadis itu bekerja. Namun, berbekal informasi dari ibunya, Bu Surti yakin, akan bertemu Mbak Irah di lantai dua mal.

Ilustrasi Mal
Ilustrasi Mal. Gambar oleh THAM YUAN YUAN dari Pixabay

Tidak sulit menemukan mal Samudera, karena letaknya di pusat kota. Dengan bantuan satpam, Ibu tua itu menaiki eskalator menuju lantai dua. Sangat mudah juga menemukan Mbak Irah, karena Bu Surti rajin bertanya kepada setiap pelayan yang ditemuinya.

“Duduk sebelah sini saja Bu Surti, sebentar lagi Siti datang bersama teman-temannya,” ujar Mbak Irah setelah Bu Surti mengungkapkan keraguannya. 

Selang beberapa menit, dari arah eskalator tampak Siti dan keempat temannya berjalan dengan percaya diri.

Siti memakai rok merah dan kaos putih berlengan pendek tanpa jilbab. Sementara keempat temannya memakai celana panjang jin dipadukan kaos putih yang sama seperti yang dikenakan Siti.

Tanpa menunggu Mbak Irah yang sedang melayani pengunjung, Bu Surti keluar dari persembunyian dan menghampiri Siti.

Melihat ibunya, Siti kaget, yang tadinya ceria tersenyum lebar berubah menjadi diam, mulutnya tak sanggup bersuara.

Boleh Baca: Cerpen Tentang Perbedaan Perlakuan Ibu

“Pulang yu, Ndok!” ajak Bu Surti pelan.

Tanpa sepatah kata, Siti mengekor ibunya, teman-temannya tanpa reaksi, mereka melanjutkan acara senang-senang.

Sepanjang perjalanan pulang, Bu Surti dengan sabar mengayuh pedal yang terasa berat karena di sadel belakang ada anaknya.

Sesekali dia menyapu keringat yang bercucuran tak karuan. Tanpa diungkapkan, harapannya, Siti tidak akan mengulangi acara tanpa makna.

Selesai*

***

Nah, demikianlah tadi secarik sajian Guru Penyemangat yang berkisah tentang harapan seorang emak.

Salam.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

2 komentar untuk "Cerpen: Harapan Ibu"

Sri 13 Desember, 2021 18:21 Hapus Komentar
Matur suwun, Bang GP. Salam sukses, sehat selalu bersama orang-orang yang mencintai.
Guru Penyemangat 15 Desember, 2021 10:19 Hapus Komentar
Mangtab, Bu
😊