Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Tentang Kasih Sayang Ibu Terhadap Anaknya, Singkat dan Menyentuh Hati

Hai, Sobat Guru Penyemangat, apa kabar Ibumu hari ini?

Guru Penyemangat doakan semoga malaikat pelindung kita yang bernama Ibu maupun Mama senantiasa sehat dan selalu berada dalam lindungan Allah, ya. Aamiin.

Sebagaimana yang kita ketahui, kasih sayang Ibu itu sepanjang jalan, sedangkan kasih sayang anak hanya sebatas penggalan.

Terang saja, jikalau seorang anak nanti sudah dewasa; jika ia laki-laki maka akan menikah dan menempatkan rasa sayangnya kepada istri. Anak perempuan? Tentu saja suami adalah ladang surga ketika mereka telah menikah.

Walau demikian, tetap saja bakti dan pengabdian kita kepada Ayah maupun Ibu wajib untuk ditinggikan. Jangan hanya menunggu sempat, tapi diusahakan pula di masa sempit.

Pada kesempatan kali ini, Gurupenyemangat.com bakal menghadirkan cerpen tentang kasih sayang seorang mama.

Cerpen tentang kasih sayang Ibu terhadap anaknya berikut ditulis singkat dan berkisah tentang belaian seorang Ibu dalam membahagiakan sang buah hati.

Oke, langsung disimak saja, ya:

Cerpen: Belaian Ibu

Oleh: Sri Rohmatiah Djalil

Cerpen Tentang Kasih Sayang Ibu Terhadap Anaknya
Cerpen Tentang Kasih Sayang Ibu Terhadap Anaknya, Singkat dan Menyentuh Hati. Dok. Gurupenyemangat.com

Dum … dum … dum

Terdengar suara benda keras dari arah kamar sebelah, aku pun memastikan ke sumber suara. Tampak kaki adik bungsu menendang dinding kamar dengan marah, air bening bergulir dari kelopak mata.

“Kenapa, Dik?” tanyaku penasaran.

“Ibu mana, Kak?” dia malah balik bertanya sembari sesegukan.

Ah adik satu ini walaupun sudah kelas empat sekolah dasar masih manja. Jika pulang bermain ada saja yang ditangisi, tapi dirinya bukan sedih karena berpisah dengan temannya atau kehilangan mainan.

“Kaak … panggil Ibu!” bentaknya bikin kaget.

Aku segera berlari ke arah di mana Ibu berada. Seperti biasa, hari Minggu adalah waktunya Ibu membuat pizza kesukaan adik-adik. Aku juga sebenarnya suka, tetapi saat ini lagi mengurangi junk food.

Kata Ibu, “Anak cewek harus langsing tubuhnya, jaga kesehatan!”

Aku sempat protes, “Makan dikit boleh kan, Bu, masa adik terus.”

“Boleh, makanya Ibu buat pizza tiap hari Minggu saja, supaya kalian tidak terlalu banyak konsumsi terigu,” serunya kala itu.

Boleh Baca: Cerpen Tentang Ibuku Pahlawanku

Adik bungsu juga pernah protes karena Ibu membatasi makan pizza, “Ibu pelit, kata Pak Guru Ozy, jika pelit, kelak kuburannya sempit.”

“Makanya, Ibu buat pizza tidak setahun sekali.” tegas Ibu seraya membela diri.

“Ibuuuuuuu ….” teriak adik lagi. Aku yang baru sampai di dapur segera mencolek lengan Ibu.

“Adik nangis, Bu, cepat ke sana, nanti dia ngamuk!” 

“Kenapa dia, Kak?”

“Palingan berantem sama temannya. Cepat, Bu, dia pukul-pukul tembok…” seruku.

Ibu segera berlari ke kamar adik, “Jaga oven ya, sebentar lagi pizza-nya mateng, jangan lupa lihat melalui kaca oven,” perintah Ibu.

Lagi-lagi aku yang harus menjaga kompor. Bukan tidak mau membantu Ibu, aku sering lupa tidak melihat kue di dalam oven, akhirnya gosong, kena omel juga, ”Kalau nunggu kue panggang jangan sambil main game!”

Baiklah, handphone aku letakkan di atas meja makan, mataku tertuju ke arah kompor, hidungku pasang alarm. Kata Ibu saat itu, “Jika sudah wangi, atasnya menguning segera matikan kompor, keluarkan pizza dari pemanggang.”

Itu benar, tidak berapa lama pizza sudah wangi dan menguning, langkah pertama aku segera mematikan kompor. Selanjutnya roti bundar dengan toping irisan sosis, jagung muda, wortel, daging giling, saus, mayonaise, aku keluarkan dari oven.

Boleh Baca: Cerpen Tentang Perbedaan Perlakuan Ibu Terhadap Anaknya

Penasaran dengan teriakan adik yang semakin menjadi, aku pun menyusul Ibu ke kamar.

“Bu, Si Fulan tadi ngatain aku jelek,” adu adik.

“Lagi-lagi masalah bully, cengeng amat anak laki,” cibirku sembari mamajukan bibir. Mendengar perkataanku, adik makin teriak, persis seperti suara panci presto jika Ibu memasak daging.

“Kakak jahat, Kakak jahat!”

“Duduk sini, Kak!” perintah Ibu.

Aku pun tidak bisa menolak perintah Ibu yang kata orang cantik dan lembut. 

“Eh … Kak, ambilkan pizza dan air minum ya, bawa ke sini!” perintah Ibu lagi.

Selang beberapa menit aku sudah membawa satu piring pizza dan air putih pesanan Ibu. 

“Ayo minum dan makan dulu pizza-nya, ini empuk banget mirip pipimu, Dik!” 

Mendengar pizza dan mencium wanginya, adik yang mulai tenang duduk di amben bersebelahan dengan Ibu. Dengan lahap dia memakan pizza kesukaannya. 

Menurut teori, jika selesai menangis, anak cenderung lapar dan jangan diajak bicara tetapi kasih makanan. Teori itu memang benar, Ibu tak perlu ngomel atau memarahi anak-anak yang sedang menangis. Cukup bawa makanan kesukaannya, setelah itu,ajak ngobrol  yang menyenangkan.

Yang pasti Ibu tidak pernah memberi saran ke adik untuk melawan teman-temannya yang nakal, katanya,”Besok juga mereka lupa, main lagi, yang adik perlukan hanya pelukan dan makanan, Kakak jangan ikut meledek, kan sudah besar.”

Ternyata benar apa kata Ibu, besoknya adik main lagi sama temannya yang manggil dia jelek, adik pun sepertinya lupa. Mungkin terhipnotis belaian Ibu atau enaknya pizza.

***

Nah, demikianlah sajian Guru Penyemangat tentang kasih sayang Ibu terhadap anaknya yang ditulis oleh SRD. Dari cerita di atas kita bisa belajar bahwa mendidik anak tak perlu harus marah-marah.

Okedeh, SeBAYa= Semoga Bermanfaat, Ya

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

2 komentar untuk "Cerpen Tentang Kasih Sayang Ibu Terhadap Anaknya, Singkat dan Menyentuh Hati"

Sri Rohmatiah 28 November, 2021 13:14 Hapus Komentar
Terima kasih, Pak GP.
Salam sukses selalu
Guru Penyemangat 28 November, 2021 17:16 Hapus Komentar
Macama, Bu. Salam sukses selalu.