Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Follow Guru Penyemangat di Google News agar tidak ketinggalan tulisan terbaru tentang edukasi, materi belajar, dunia keislaman, soal ujian, motivasi, investasi emas, kesehatan dan fiksi. Klik di sini.
Gulir ke bawah untuk membaca artikel.

Cerpen Tentang Berkata Baik: Tidak Pantas untuk Diejek

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik. Jika tidak, maka diamlah. HR. As-Shahihain

Hai, sobat Guru Penyemangat, pernah mendengar hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di atas, kan?

Hadis tersebut berisi perintah Nabi agar kita semua mau menjaga mulut dan berhenti untuk menebar kata-kata yang nirfaedah.

Dalam menjalani hidup, kita diperintahkan untuk senantiasa berkata yang baik-baik. Kalau tidak bisa berkata yang baik? Maka diamlah. Dari sinilah muncul ungkapan bahwa diam adalah emas.

Sedihnya, tidak jarang kita temukan teman, kerabat, bahkan sahabat yang seenak jidatnya mengejek orang lain. Dalihnya sih sedang guyon, tapi sebenarnya kata-kata yang diucapkan tetap tak pantas untuk didengar.

Maka dari itulah, di sini Gurupenyemangat.com ingin menghadirkan cerpen tentang pentingnya berkata yang baik dan larangan untuk mengejek orang lain.

Cerpen berikut merupakan goresan jari-jari indah Fahmi Nurdian Syah dan cocok untuk dibaca dan menjadi pelajaran bagi anak-anak sekolahan maupun kita semua.

Oke, langsung disimak saja ya:

Cerpen Tentang Berkata yang Baik: Tidak Pantas untuk Diejek

Oleh: Fahmi Nurdian Syah

Cerpen Tentang Berkata Baik
Cerpen Tentang Berkata Baik. Dok. Gurupenyemangat.com

Deni adalah anak dari seorang buruh tani yang sederhana. Seragam putih lusuh yang ia kenakan sejak kelas 1 SD sudah sangat kekecilan.

Sekarang Deni yang duduk di bangku kelas 4 badannya begitu tumbuh membesar. Karena tak mampu membeli seragam baru, ia pun terpaksa tetap memakainya walaupun terasa sangat sempit.

Hari ini Deni berangkat ke sekolah seperti biasa, jalan kaki sendirian di sepanjang jalan. Meskipun begitu ia tetap semangat untuk belajar demi meraih kesuksesan di masa yang akan datang.

Teeett...teeett..teeett...

"Silakan anak-anak bukunya di buka" ucap Bu Guru yang ada di depan.

"Baik Bu," jawab seluruh murid di dalam kelas.

"Halaman 18 dibaca dulu, setelah itu baru Ibu jelaskan," lanjut Bu Guru.

Seketika seluruh murid membaca sesuai arahan guru, Tetapi tidak dengan Rehan dan Bayu, dua murid ini yang duduk di belakang malah asik bergurau. Ibu Guru yang melihatnya seketika langsung menegurnya.

"Heii.. Bayu dan Rehan, dibaca bukunya!" Teriak Bu Guru dari depan.

Sontak mendapati Bu Guru yang marah, murid-murid yang sedang fokus membaca seketika menoleh ke arah belakang.

Boleh Baca: Cerpen Tentang Kejujuran yang Membawa Berkah

Mereka memperhatikan Bayu dan Rehan yang hanya diam menunduk, Ia berdua dari awal memang tidak mendengarkan arahan Bu guru, sehingga tak tahu halaman berapa yang harus dibaca.

"Anak-anak dilanjut membacanya."

Tak terasa dua jam pelajaran telah berlalu, kini telah memasuki waktu istirahat. Anak-anak pun pada berhamburan keluar kelas dan menuju kantin untuk hanya sekedar mengisi perut yang sudah sedikit kosong.

Setelah selesai jajan, para murid langsung kembali masuk ke kelas meskipun bel masuk belum berbunyi.

Deni yang melihat papan tulis masih penuh dengan coretan pelajaran sebelumnya, berinisiatif untuk menghapus tulisan tersebut sebelum datangnya Bu Guru untuk mengajar pelajaran selanjutnya.

Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke depan dan mengambil penghapus, namun peristiwa tak terduga terjadi. 

Krekkk... 

Baju seragamnya robek saat ia mengangkat tangan untuk menghapus tulisan di papan tulis. Seluruh teman-teman di kelasnya menertawakannya. Ada juga di antara mereka yang melayangkan ejekan karena tak pernah berganti seragam. 

Pada saat itu, Deni merasa sangat sedih. Sampai Ia tak mampu menahan bendungan air mata. Deni hanya berjalan menunduk dari depan menuju tempat duduknya. 

Teeett...teeett...teeett... 

Bel masuk telah berbunyi, Deni masih menyembunyikan Isak sedihnya di balik kedua tangannya. Bu guru yang sudah masuk ke dalam kelas seketika melihat Deni dengan wajah tertunduk di pangkuan tangannya. Seketika ia menghampiri ke tempat duduknya.

"Deni, kenapa kamu nak? Sakit?" Tanya Bu guru sambil mengecek badannya.

Deni tak menjawab sepatah kata, ia hanya sesekali sesegukan.

"Ini bajumu kenapa bisa sobek?"

Seketika Deni mengangkat kepalanya, dan sesekali ia mengusap air mata yang masih mengalir.

"Ta-tadi, Deni menghapus tulisan yang ada di depan, tapi waktu mau menghapus baju ini sobek, dan teman-teman pada ngejekin Bu," jawab Deni sembari mengusap pipinya yang basah. 

"Sudah ya nak jangan nangis lagi," ucap Bu Guru sambil mengelus punggung Deni.

Setelah itu Bu Guru melangkahkan kakinya menuju ke dapan. Bu Guru mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru sudut seperti hendak menyampaikan sesuatu.

Melihat tatapan Bu Guru yang seperti itu, membuat para murid diam dan suasana kelas menjadi hening.

"Anak-anak yang saya sayangi, kalian tidak boleh bersikap seperti itu, Deni itu anak hebat loh, ia tak pantas untuk diejek. Bagaimana bisa ibu mengatakan bahwa dia anak hebat? Ibu tau memang baju yang ia kenakan sudah kekecilan dan bahkan hampir tidak muat. Tetapi dia tak pernah mengeluh, tak pernah beralasan untuk tidak hadir sekolah karena malu bajunya kekecilan. Harusnya kalian bisa mengambil pelajaran dari dia, bukan malah diejek."

Boleh Baca: Cerpen Anak Sekolahan Tentang Persahabatan dan Kasih Sayang

Mendengar nasihat dari gurunya, seketika para murid merasa iba kepada Deni. Seperti baru tersadar bahwa memang benar apa yang diucapkan oleh Bu Guru di depan.

"Silakan sekarang minta maaf kepada Deni" Ujar Bu guru.

"Maafin kami ya Deni…" ucap seluruh murid di dalam kelas kepada Deni.

Deni hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. Seperti masih merasa sakit di dalam hatinya usai mendapat ejekan dari temannya.

"Deni nanti jangan pulang dulu ya, ke kantor Ibu dulu," lanjut Bu guru.

"Ba-baik, Bu." ucap lirih Deni.

Setelah itu Bu Guru melanjutkan pelajaran sampai bel pulang berbunyi.

Deni ingat Pesan Bu guru yang memintanya untuk datang ke kantornya. Deni pun bergegas berjalan menuju ke kantor.

"Ada apa, Bu, Deni disuruh ke sini," tanya Deni kebingungan.

"Ini, Nak, ada seragam baru untukmu, besok dipakai ya," jawab Bu guru sembari menyodorkan seragam yang masih terbungkus rapi.

"Serius Bu, ini untuk Deni?" Tanya Deni tak percaya.

"Iya," jawab Bu Guru sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Terima kasih banyak ya Bu," ucap Deni bahagia.

"Iya Nak, sama-sama."

Deni pun berjalan pulang dengan hati yang sangat bahagia, ia akan memberitahu hal ini kepada ibunya. Dan juga ia tidak akan pernah diejek lagi karena tidak pernah ganti seragam.

***

Demikianlah tadi secarik cerpen yang mengandung pesan larangan mengejek orang lain. Dari kisah di atas, kita bisa belajar tentang pentingnya berkata yang baik, berbuat yang baik, serta berempati terhadap orang lain.

Daripada mengejek, menyindir, bahkan menghina, bukankah lebih baik bila kita membantu sebisanya?

Salam.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Cerpen Tentang Berkata Baik: Tidak Pantas untuk Diejek"