Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Ibuku Pahlawanku: Pahlawan Tangguh Tak Pernah Mengeluh

Hai, Sobat Guru Penyemangat. Apakah belakangan ini dirimu sedang sibuk mengumpulkan daftar nama-nama pahlawan?

Jika iya, maka tolong periksa kembali ya daftar tersebut. Karena aku ingin menambahkan satu nama pahlawan yang menurutku tidak boleh ketinggalan.

Siapa itu? Dialah Ibu. Ibuku Pahlawanku. Pahlawan sejak diriku mengenal huruf hinggalah bisa menulis cerpen. Dialah mama, wanita dengan ketulusan tiada tanding.

Kebetulan, nih. Kebetulan Guru Penyemangat dapat kiriman cerpen bertema Ibuku Pahlawanku dari Madiun.

Penulisnya ialah Bu Sri Rohmatiah. Dia pula seorang Kompasianer yang belakangan ini sibuk menulis artikel tentang dunia rak piring. Eh, maksudku parenting.

Nah, mungkinkah dirimu mulai penasaran tentang bagaimana kisah Ibuku Pahlawanku? Cuz, langsung kita simak cerpen berikut, ya:

Cerpen: Pahlawan Tangguh Tak Pernah Mengeluh

Cerpen Ibuku Pahlawanku
Cerpen Ibuku Pahlawanku: Pahlawan Tangguh Tak Pernah Mengeluh. Dok. Gurupenyemangat.com

Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, ketika ibu membangunkanku dengan lembut, “Ayo bangun, kita ke pasar!”

Sebetulnya mata ini masih ngantuk, badan rasanya capek. Walaupun sekolah belum full, tetapi, aku sering ke sekolah. Selalu ada kegiatan yang melibatkan OSIS, belum tugas-tugas dari guru les, seabreg. Ah abaikan itu hanya alasan saja untuk leyeh-leyeh.

Aku tak bisa membuat alasan hanya untuk menolak mengantar ibu ke pasar. Ibu kulakan sayuran juga demi biaya sekolah aku dan adik semata wayang yang nakalnya minta ampun.

Dia sebetulnya tidak nakal, hanya manja, karena perbedaan usia kami sangat jauh. Aku kelas 12 sementara adikku kelas 3 SD. Kata Ibu, wajar dia nakal, dia butuh perhatian seorang ayah.

Ayah, dia baru satu tahun meninggal karena sakit gagal ginjal. Sakitnya sudah lama, sejak aku duduk di kelas 7. Terbayang kan adikku saat itu masih kecil. 

Ketika aku masuk tsanawiyah, ayah tidak mengantarku lagi, “Sekolahmu dekat, pakai sepeda saja ya, Le!” 

Jika dibandingkan sekolah MI dulu, MTs. Memang dekat, hanya 6 kilometer, ditempuh dengan sepeda pancal memerlukan waktu sekitar setengah jam. Pada mulanya aku tidak faham, mengapa Ayah menyuruhku naik sepeda. Setelah beberapa kali ke dokter, barulah tahu kalau ia sakit.

Kata ibuku, “Ayahmu ginjalnya sakit, Le.”

Aku tidak tahu, kenapa Ayah bisa gagal ginjal. 

“Jangan tanya kenapa, Le, sekarang bagaimana kita mengobati Ayahmu biar sembuh,” jawab Ibu ketika aku bertanya penyebab Ayah sakit.

Jawaban Ibu tidak memuaskan. Setelah aku menginjak SMA, baru kuketahui, kalau gagal ginjal disebabkan tiga hal. Di antaranya, kerusakan langsung pada ginjal, kurangnya pasokan darah ke ginjal, dan penyumbatan pada ginjal atau saluran kemih, sehingga urine tidak bisa dikeluarkan dari tubuh. Itu sebabnya, tubuh ayah terkadang bengkak, padahal minumnya dijatah oleh Ibu.

Selama empat tahun, Ayah operasi sudah empat kali, satu tahun sebelum meninggal, cuci darah setiap dua pekan sekali. Pengobatan yang panjang memerlukan biaya banyak, apalagi Ibu menolak BPJS, alasannya ingin memberi yang terbaik untuk Ayah. Sedikit demi sedikit tabungan Ayah terkuras, barang yang ada pun dijualnya, mulai dari mobil, tanah.

Walaupun Ibu telah menghabiskan tabungan untuk pengobatan Ayah, tak pernah mengeluh. Kami hanya berusaha yang terbaik untuk ayah. Dengan sisa uang tabungan, Ibu membuka warung sayur mentah. Setiap pukul dua pagi, ia ke pasar, kulakan sayuran. 

“Aku antar, Bu!”

“Nggak usah, kau jaga adikmu saja, Le!” ujar Ibu menolak niat baikku.

Awalnya Ibu nyaman ke pasar sendiri tengah malam. Namun, seringkali mendapat kendala ketika perjalanan pulang.

“Le … motor Ibu mogok, jemput ya dekat jembatan Winongo!” atau

“Le … belanjaan Ibu banyak sekali, tidak bisa bawa, susul ke pasar ya!”

Bukan itu saja, yang lebih parah, ketika motornya ditabrak orang, “Le … Ibu ada di kantor polisi, ditabrak anak muda!”

Berita yang mengagetkan sering terjadi. Bukan tidak ikhlas menyusul Ibu, tetapi, kesehatan, keselamatan Ibu lebih penting. Aku dan adikku tak punya ayah, bagaimana bisa Ibu kerja keras sendiri.

“Bu, kita beli motor roda tiga tossa saja, biar aku yang antar Ibu,” saranku malam itu.

Ibu menolak dengan alasan tak punya uang. Kredit, mungkin itu jalan satu-satunya. Ibu tetap tak setuju untuk kredit. Alasannya sih masuk akal, kredit itu harganya akan lebih tinggi. Kita juga punya beban bayar tiap bulannya, jika jualan Ibu ramai, bisa bayar, jika tidak?

Tiba-tiba, Ibu melontarkan usulan yang membuat jantungku jatuh.

“Le, jual saja tanah sawah sepetak itu untuk usaha Ibu.”

“Jangan, Bu, itu untuk makan kita, Ayah pun dulu melarang kita menjual sawah dan rumah,” larangku dengan tegas. 

“Maksud Ibu, karena kita tidak bisa garap sawah, kita jual tahunan, orang bisa beli selama lima tahun, tanah tetap milik kita, Le,” terang Ibu panjang kali lebar sama dengan luas.

Setelah aku pikirkan, ide Ibu bagus juga, Ibu tidak bisa terjun ke sawah, apalagi aku.

Setelah ada motor tossa, aku bisa mengantar Ibu pergi ke pasar. Namun, jika aku ada ulangan atau harus sekolah pagi, Ibu tidak mengizinkan.

Motor itu besar, baknya juga, Ibu semangat belajar mengendarainya, “Biar Ibu tidak menganggu sekolahmu, Le," katanya kala itu.

Ibu memang pahlawanku, ketika kehilangan sayapnya, dia tak pernah mengeluh, Ibu tangguh tak pernah mengeluh. 

Madiun, 12 November 2021

***

Nah, demikianlah tadi seuntai sajian cerpen bertema Ibuku Pahlawanku yang dikirim jauh-jauh dari Madiun.

Nyatanya, Ibu memang benar-benar sosok yang tangguh dan enggan untuk mengeluh, ya. Itulah Emak, Bunda, dan Mama. Dialah pahlawanku.

Salam.

Lanjut Baca: Cerpen Ayahku Pahlawanku

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

4 komentar untuk "Cerpen Ibuku Pahlawanku: Pahlawan Tangguh Tak Pernah Mengeluh"

  1. Matur suwun, Bang Guru
    Sukses selalu GP.

    BalasHapus
  2. sungguh perjuangan seorang ibu membesarkan kedua buah hatinya ya mas ozy...cerpen mba siti bagus sekali...penuh pesan moral yang baik tentang arti kata kerja keras, oantang menyerah, dan berusaha memberikan yang terbaik. Hingga sang ayah berpulang karena gagal ginjal hingga si ibu menjadi janda. Wah betapa perjuangan selanjutnya akan lebih keras lagi dalam membesarkan anak anak mereka

    btw aku juga dulu sekolahnya pake sepeda sih menyusuri sawah juga

    baru tahu kalau motor roda 3 itu namanya tossa hehe...tapi sistim jual beli sawah yang tanahnya masih jadi miliknya masih bikin ku loading dikit mas ozy hehe

    tapi cerpennya bagus ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya benar, Mbak. Perjuangan seorang Ibu sangat layak untuk diteladani. Seru ya, orang jawa rata-rata dulu kalo sekolah pake sepeda.

      Nah, apalagi aku, Mbak. Orang Curup malah gaktau sama tossa. Hahaha. Ini cerpen kiriman pembaca, Mbak.

      Tengkyu ya :-)

      Hapus
    2. Ok, bantu jawab ya. Jual sawah tapi masih milik pemilik artinya, seperti sewa tahunan. Dua atau tiga kali tanam padi dan satu kali tanam palawija seharga 2.7jt-3jt/tahun, tergantung luas sawah dan letak sawah.

      Kalau tossa sejenis motor roda 3 ada baknya belakang.
      Ttd. Pembaca. Hik😊

      Hapus

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.

Diperbolehkan mengutip tulisan di blog Guru Penyemangat tidak lebih dari 30% dari keseluruhan isi (1) artikel dengan syarat menyertakan sumber. Mari bersama-sama kita belajar menghargai karya orang lain :-)

Promo Cashback & Voucher Shopee