Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Follow Guru Penyemangat di Google News agar tidak ketinggalan tulisan terbaru tentang edukasi, materi belajar, dunia keislaman, soal ujian, motivasi, investasi emas, kesehatan dan fiksi. Klik di sini.
Gulir ke bawah untuk membaca artikel.

Contoh Cerita Pendek Motivasi Sukses yang Menginspirasi dan Menyentuh Hati

Cerita Pendek Motivasi Sukses yang Menginspirasi dan Menyentuh Hati
Cerita Pendek Motivasi Sukses yang Menginspirasi dan Menyentuh Hati. Dok. Gurupenyemangat.com

Hai Sahabat Guru Penyemangat, Bagaimana Kabarnya Hari Ini?

Semoga enggan bergalau dalam keambyaran, ya. Aku harap kita semua selalu termotivasi untuk sukses dan bersungguh-sungguh dalam setiap usaha dan kegiatan.

Memang sih, dalam hidup ini pasti ada-ada saja masalah yang menghampiri. Dan yang pastinya akan terjadi, pernah terjadi, atau sedang terjadi di diri kita adalah kegagalan.

Pernah gagal, kan? Sering bahkan. Hehehe. Soalnya Guru Penyemangat sudah sangat sering gagal, berkali-kali jatuh.

Tapi biarlah. Tiada mengapa. Tidak mungkin kita selalu gagal sampai mati. Setelah gagal toh pasti ada kesuksesan, kan? Maka dari itulah, mari kita habiskan stok gagal agar tersisa kesuksesannya saja.

Dan dalam tulisan kali ini, Gurupenyemangat.com bakal menghadirkan cerita pendek bertema motivasi sukses.

Contoh cerita pendek tentang motivasi sukses yang menginspirasi ini semoga mampu menyentuh hati dan membangkitkan semangat diri untuk bahagia.

Nah, penasaran, kan? Mari langsung kita simak ya:

Cerita Pendek Motivasi Sukses: Alasan Kegagalan yang Terjawab

Cerita Pendek Motivasi Sukses Alasan Kegagalan yang Terjawab
Cerita Pendek Motivasi Sukses Alasan Kegagalan yang Terjawab. Dok. Gurupenyemangat.com

Pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi. Sayang, sungguh disayangkan perempuan itu masih betah dalam murung. Wajahnya sendu sesendu-sendunya sedih. Ia lagi-lagi menyesali seuntai juangnya. Perjuangan yang gagal.

“Padahal aku sudah belajar giat! Padahal aku sudah ikut bimbel! Padahal aku sudah beli buku tebal hingga lebih dari lima ratus lembar! Mengapa!”

Raut wajahnya semakin kusam seperti orang yang baru saja patah hati, sepatah-patahnya rasa. Tiap kedipan mata penuh dengan irama gagal, ramai dengan pertanyaan “padahal”, bersahabat dengan segerombol sesal.

Rencananya perempuan itu sudah begitu matang. Ia sudah berangan-angan jauh akan kuliah di UGM dan mengambil jurusan Matematika. Tapi apa daya, entah itu tes jalur prestasi maupun tes jalur seleksi nasional, keduanya tidak ada yang lolos.

Ia masih berharap ingin mengambil jalur mandiri. Namun apalah daya, hal tersebut sudah di luar batas kewajaran dan kemampuan kedua orang tuanya.

Namanya juga anak buruh. Bisa dihitung berapalah gaji seorang pekerja kasar. Paling-paling Rp750.000-1.000.000. Itu pun kalau kerja lancar. Lha kalau seret dan badan sedang tidak bisa diajak kompromi? Ya tidak dapat gaji.

“Indah, Indah kuliah di kampus dekat rumah kita saja ya. Tidak apa-apa kok, Ibu yakin ada secercah harapan cerah yang menanti di depan sana.”

Ya, nama perempuan itu Indah. Ia baru saja tamat SMA dan ingin pergi kuliah dan merantau di pulau Jawa. Dia hanyalah gadis sederhana yang tinggal di sebuah desa terpencil di Bengkulu.

Walau tinggal di desa terpencil, Indah punya cita-cita besar layaknya gadis milenial yang tinggal di kota. Dirinya begitu ingin jadi dosen Matematika atau bos di Badan Pusat Statistik (BPS).

Namun, takdir seakan-akan menampar mimpinya hingga memar. Dia baru saja ditolak. Indah merasa gagal, dan sekarang mulai separuh hati mendaftarkan kuliah di salah satu Sekolah Tinggi di Bengkulu.

*

Dua bulan berlalu sejak kisah pedih itu. Indah sekarang sudah kuliah. Dia mengambil jurusan S-1 Pendidikan Bahasa Inggris.

Lha kenapa kok bukan Matematika? Karena tidak ada jurusan Matematika di sini, sedangkan jurusan Bahasa Inggris akreditasinya paling bagus, yaitu B.

Perlahan tapi pasti, Indah mulai belajar membetahkan diri dengan rencana hidup serta masa depannya. Bahasa Inggris mungkin bukan pilihan terbaik, tapi paling tidak juga bukan pilihan yang buruk.

Indah mulai belajar menerima kenyataan, mesti berkali-kali ia merasa bahwa kenyataan ini begitu pahit. Biarpun begitu, gadis ini tak pernah absen kuliah. Ia tetap menjalani tugas dan kewajibannya sebagai seorang mahasiswi.

*

Dua semester berlalu, Indeks Prestasi (IP) Indah tidak begitu buruk. Ia mendapat IP 3,5 di semester satu dan 3,6 di semester dua. Yup, naik, dan nilai Indah tidak ada yang C. Dengan demikian, kesempatannya untuk lulus kuliah dengan predikat Cumlaude sangat besar.

Sayangnya, jelang memasuki semester ketiga, Indah mengalami masalah. Dia butuh uang untuk membayar UKT. Sedihnya lagi, Ayahnya sedang sakit sehingga tidak ada penghasilan dalam beberapa hari.

Waktu demi waktu, Indah merasa begitu gusar. Ia bingung harus mencari pinjaman ke mana lagi, karena sejatinya keluarganya sudah meminjam uang di beberapa tempat. Indah pun berpikir lama; tidak mungkin orang tuaku mau menambah pinjaman lagi.

Saat itu, terlintas di pikiran Indah bahwa “bagaimana jika aku berhenti kuliah saja, ya?” Karena dia sendiri pun hanya memiliki tabungan dua ratus ribu rupiah, sedangkan UKT yang dibutuhkan adalah Rp2 juta.

Ketika sedang muram dalam bayang, tiba-tiba Ibu pun memanggil Indah.

“Indah, kita ke pasar yuk. Tolong antarkan Ibu ya…”

Indah pun bergegas berangkat ke pasar bersama Ibu dengan mengendarai sepeda motor. Dia pun tiada berpikir panjang. Indah hanya menebak bahwa Ibu ingin membeli sayur atau peralatan dapur.

“Indah, berhenti di sini ya.”

Setelah melalui dua puluh menit perjalanan, tiba-tiba sang Ibu meminta Indah berhenti. Mereka berhenti tepat di depan toko emas. Dan benar saja, waktu itu sang Ibu ingin menjual anting-antingnya demi membayar uang kuliah Indah.

Sontak saja Indah terharu. Matanya berair, dan dirinya terdiam seribu bahasa. Indah tak bisa berkata-kata lagi, bahkan dia malu terhadap dirinya sendiri.

Bagaimana tidak malu, setahun belakangan ini ia hanya mengeluh kepada diri sendiri dan dunia tentang kegagalan kuliah ke luar provinsi beserta kandasnya cita-cita untuk mengambil jurusan Matematika.

Tapi sekarang, kegagalan tersebut telah terjawab dengan sendirinya. Indah pun berpikir panjang seraya berkata dalam hati, “Bila saja kemarin aku lulus di Jawa, mungkin kuliahku akan terhenti di tengah jalan tersebab biaya yang besar.”

Indah pun akhirnya mengerti mengapa Tuhan membatalkan rencananya. Ternyata kesedihan dan kekesalan yang ia rasakan setahun yang lalu baru dijawab Tuhan hari ini.

Alhasil, sejak detik itu Indah berjanji kepada dirinya sendiri untuk lebih serius kuliah, lebih rajin belajar, dan bersungguh-sungguh menggapai cita-cita demi membahagiakan kedua orang tua.

***

Nah, demikianlah sajian cerita pendek motivasi sukses yang bisa Guru Penyemangat sajikan dalam kesempatan kali ini.

Mudah-mudahan menginspirasi dan membangkitkan diri kita untuk segera menuju sukses dan menggapai impian ya.

Aamiin ya Rabb. 

Lanjut Baca: Cerpen Tentang Penyesalan

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Contoh Cerita Pendek Motivasi Sukses yang Menginspirasi dan Menyentuh Hati"