Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kumpulan Puisi Tentang Aku yang Bangga Menjadi Anak Indonesia

Indonesia memang selalu ngangenin, ya. Bumi Pertiwi terkadang penuh basa-basi, tapi Guru Penyemangat tiada bisa berdusta bahwa selalu ada yang dirindukan dari negeri ini.

Makanannya, rempah-rempahnya, senjata tradisionalnya, rumah adatnya, ramah-tamah penduduknya, hingga keanekaragaman suku, ras, budaya, dan agama.

Semua kelebihan tersebut merupakan kekayaan yang membuatku tiada berhenti untuk berbangga. Aku bangga menjadi anak Indonesia karena kekayaannya, keelokannya, dan keindahannya.

Nah, bagaimanakah denganmu?

Walau pandemi masih menyapa, bahagiaku dan bahagiamu jangan sampai berkurang, ya. Apa lagi untuk Indonesia.

Maka dari itu, di sini Gurupenyemangat.com bakal menyajikan kumpulan puisi tentang aku yang bangga menjadi anak Indonesia. Bangga dengan Tanah Air yang penuh rindu dan cinta.

Silakan langsung disimak saja, ya:

Ragam Puisi Tentang Aku yang Bangga Menjadi Anak Indonesia

Tentang Aku yang Bangga Menjadi Anak Indonesia
Kumpulan Puisi Tentang Aku yang Bangga Menjadi Anak Indonesia. Photo by Anggit Rizkianto on Unsplash

Puisi: Negeriku Indonesia

Negeriku kaya. Air di sana sini bertumpah ruah. Ikan-ikan itu dilihat saja sudah mengenyangkan. Belum lagi dengan pohon-pohon. Hijaunya menyejukkan.

Negeriku indah. Sepinya kita terusik oleh keramaian madani. Kamu ramah padaku, juga pada mereka.

Pesona langit, gunung, hingga bawah laut. Aku hanya sakit ketika tumpukan sampah merusak pasir-pasir putih.

Negeriku Indonesia. Kaya dengan budaya. Rempah. Bahasa. Juga, pulau-pulau. Dari Sabang sampai Merauke setiap meternya membuatku bangga.

Aku bangga tinggal di negeriku Indonesia. Tanahnya luas. Dingin. Sejuk. Iramanya semerdu embun pagi. Ternyata aku tak bisa berhenti menyapa negeri ini.

Puisi: Duhai Indonesiaku

Di sudut sana kulihat ada petani
Dia sibuk menggarap sawah
Menanam padi
Lalu mengibarkan bendera Indonesia

Kerbaunya sehat
Irigasi lancar
Padinya merunduk
Laksana tingkahmu yang menyapaku

Duhai Indonesiaku
Di sudut sini aku melihat buruk pabrik
Mereka terus berkeringat

Lembur, katanya
Pergi pagi pulang malam
Pergi sore pulang pagi
Pergi malam pulang sore
Melelahkan
Dengan penghasilan yang belum sepadan

Duhai Indonesiaku
Mereka bayar pajak dan selalu mendoakanmu
Jangan biarkan mereka sakit hati
Apalagi kesusahan

Mereka sudah begitu tulus mencintaimu
Walau tidak lagi memegang bambu runcing

Puisi: Bangkit Indonesia dari Pandemi

Hai, Indonesia. Bagaimana kabarmu? Kulihat langit pagi ini tidak sebiru biasanya. Kulihat udara, juga tidak sesejuk senja. Mungkin kau sedang sakit.

Aku pergi ke jalanan, ternyata aspal kesepian. Tidak ada jejak kaki. Yang tertinggal hanyalah syair ratapan dan corona yang belum mau pergi.

Aku khawatir. Entah bagaimana kabarmu, Indonesia. Berlalu-lalang kebijakan penuh intrik. Ternyata kami tidak bisa lagi demo. Kami sakit melihat tingkah penguasa.

Ada tikus-tikus nakal di sebalik meja kerja. Menjilat-jilat masker, meludahi vaksin, mengikat perut orang miskin.

Indonesia, sadarkah bahwa dirimu sedang terpuruk?

Bangkit Indonesia dari pandemi. Jangan lagi kehilangan jati diri. Wujudkan masyarakat madani. Yang juga sehat hati.

Puisi: Indonesia, Tanah dan Tumpah Darahku

Pagi hari, lambaian aroma rendang menyapaku
Rendang asli kepunyaan Indonesia
Haram dijiplak namanya
Karena negeri ini tanah dan tumpah darahku

Berangkat ke sekolah
Ada teman-teman mengobarkan Bhinneka Tunggal Ika
Mereka bangga dengan bahasa daerah
Saling damai walau beda agama

Sesaat kemudian guru menyapa
Dia menceritakan senjata tradisional
Aku lalu teringat dengan bambu runcing
Senjata hebat yang fenomenal

Sepulang sekolah
Aku melihat masyarakat dengan antre
Ternyata mereka sedang bayar pajak
Peduli dengan kebijakan Bumi Pertiwi tercinta

Sudah tiada kurang apa lagi
Tanah negeri ini buat hatiku asri
Menepis segunung peluh dan keluh sepi
Tumpah darah dan cintaku tiada akan berhenti

Puisi: Indonesia Tercinta

Puisi Indonesia Tercinta
Puisi Tentang Indonesia Tercinta. Photo by Atik sulianami on Unsplash

Indonesia

Entah mengapa aku sulit melepaskan cinta
Juga sayang
Juga kagum dengan para pahlawan yang gugur di medan perang

Makin hari fajar makin indah
Ketika kurenungi butir-butir Pancasila
Persatuan dan kesatuan adalah yang utama
Pantang cerai-berai
Cinta dengan kemanusiaan

Bangga dengan diri sendiri
Persembahkan yang terbaik untuk Bumi Pertiwi

Indonesia tercinta
Kemarin aku pernah terluka
Kebijakan pemerintah membuatku meronta
Pensilku patah
Penghapusku hilang
Penaku tak bertinta
Aku di sini hadir untuk menuntut keadilan

Tolong bantu hapus kesenjangan
Kami juga ingin belajar
Ada listrik
Ada sinyal internet

Tapi aku tetap bahagia melihat Indonesia
Tanahku masih hijau
Subur
Cabai rawit dan pepayaku tumbuh lebat
Kuharap panennya sukses dan berharga mahal

Tapi…
Lebih mahal cintaku untukmu, Indonesia

Puisi: Indonesia, Aku Bangga Padamu

Seluas mataku memandang hatiku jadi sejuk. Untaian angin semilir berhembus lembut mengetuk kebahagiaan.

Aku bangga padamu Indonesia. Negara dengan pulau terbanyak di dunia. Kaya rempah. Harum mewangi bunga-bunga. Cantik dan elok ragam budaya.

Entah mengapa aku tak pernah lelah. Walau berkeringat. Walau belajar dari rumah. Aku selalu rindu dengan Indonesia yang ramai.

Meski hari ini dan esok pagi bumi masih menangis. Kesepian karena pandemi. Aku masih tidak mengapa.

Selama Indonesia damai. Pemimpin bijaksana. Kebijakan tepat sasaran dan guna. Aku akan selalu bangga menjadi anak Indonesia.

Sekali lagi, aku bangga menjadi anak Indonesia.

***

Demikianlah kumpulan puisi yang berkisah tentang kebanggaan seorang anak karena telah menjadi bagian dari negara Indonesia.

Mudah-mudahan bisa menginspirasi dan meningkatkan kecintaan kita terhadap Tanah Air tercinta, ya.

Salam.

Baca Juga: Puisiku untuk Indonesia, Tiang Negeri yang Kesepian

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Kumpulan Puisi Tentang Aku yang Bangga Menjadi Anak Indonesia"