Widget HTML #1

Awas Keliru! Begini 5 Dasar dan Panduan Cinta yang Benar dalam Islam

Cinta Islam ini pembahasannya manut pada petuah salah satu guru pejuang Ahlussunnah Wal Jama’ah (Salafi sebenarnya) di Indonesia yaitu Buya Yahya.

Beliau merupakan salah satu pembina lembaga pengembangan dakwah pesantren Al-Bahjah Cirebon. 

Apa sih cinta Islam sesungguhnya?

5 Dasar dan Panduan Cinta yang Benar dalam Islam
5 Dasar dan Panduan Cinta yang Benar dalam Islam. Gambar oleh mohamed Hassan dari Pixabay 

Setuju tidak mencintai Islam namun membunuh sesama orang Islam gara-gara masalah perbedaan ajaran yang memang sepele?

Sadar atau tidak, ada sebagian kelompok kecil Islam namun “brutal” yang mudah mengatakan kafir pada sesama Islam yang masih beriman.

Karena dikatakan kafir maka halal dibunuh. Inti pembunuhan yang terjadi adalah karena telah “dikafirkan”.

Apakah sikap mudah mengkafirkan sehingga membuat darahnya halal dibunuh merupakan bukti dan dasar cinta dalam Islam?

Justru ini sebagai simbol kebencian terhadap Islam. Cinta Islam namun bukan pada Islamnya. Cinta mereka hanya pada ajaran kelompoknya bukan cinta sesungguhnya kepada Islam.

Kalau pun memang orang itu benar-benar telah mengalami kekafiran pun perlu dilakukan ajakan untuk bertobat.

Setelah tetap membangkang maka perlu dilaporkan ke pemimpin untuk diadili. Itu pun dalam wilayah proses hukum masih disuruh untuk bertobat.

Kalau memang benar-benar membangkang lagi maka seorang pemimpin menyuruh algojo untuk memenggal sampai mati secepatnya, tidak disiksa.

Jadi tidak sembarangan membunuh walau memang halal dibunuh. Apalagi tidak halal dibunuh maka justru dosa besar dan merupakan kejahatan berbalut agama.

Dengan hadirnya kelompok garis keras yang mengatasnamakan Islam namun bukan mengatasnamakan Islam, maka perlu melakukan pembekalan diri agar bisa mengidentifikasi golongan seperti ini untuk dicegah pergerakannya.

Tujuannya, minimal tidak membuat pertambahan jumlah orang yang mengikuti kelombok garis keras. Maksimalnya adalah kikis habis dari bumi Indonesia!

Maka dari itu, sebagai bentuk cinta Islam yang sebenarnya, Buya Yahya memberikan petuah hasil belajar dari ilmu-ilmu para ulama Ahlussunah Wal Jama’ah (As-sunnah sesungguhhya).

Berikut 5 dasar yang perlu kita miliki sebagai bentuk kecintaan pada Islam:

Panduan Cinta Islam
Panduan Cinta Islam. Gambar oleh Pezibear dari Pixabay

1. Orang Itu Harus Islam

Orang yang cinta Islam jelas harus masuk terlebih dahulu pada Islam. Bila memang tidak begitu maka belum dikatakan cinta Islam namun sekedar menghargai.

Dalam hal ini, orang yang sudah masuk Islam dikatakan sudah dianggap cinta Islam. 

Walau memang belum tentu kadar cinta pada Islam dikatakan maksimal. Bisa saja orang yang beragama Islam namun sekedar Islam KTP. Namun, dalam hal ini sudah dianggap cinta Islam.

Namun, Islam saja tidak cukup. Karena banyak orang mengaku Islam namun sebenarnya sesat atau keluar dari Islam.

2. Orang Itu Harus Ahlussunnah Wal Jam’ah

Makna Ahlussunnah Wal Jam’ah (disingkat Aswaja) inti utamanya adalah mengikuti Rasulullah, 4 Sahabat, Tabi’in, Tabi’at Tabi’in alias generasi Salaf.

Disingkat dengan sebutan Salafi alias orang yang mengikuti generasi Salaf. Sehingga bukti cinta Islam harus Salafi alias mengikuti Salaf.

Namun, dalam langkah dua ini banyak golongan yang mengklaim Aswaja.

Golongan ini sering juga menyebutnya Salafi, As-sunnah, atau lainnya. Intinya adalah yang menunjukkan golongan yang ber-Ahlussunnah Wal Jam’ah.

Setelah diselidiki, ternyata sebagian golongan mereka adalah golongan yang mudah mengkafirkan, membid’ahkan dan mensyirikkan golongan lain.

Bahkan, sesama golongan sendiri melakukan vonis bid’ah sehingga membuat golongan ini pecah.

Apakah pantas disebut Ahlussunnah Wal Jam’ah bila mudah mengkafirkan, membid’ahkan dan mensyirikkan yang membuat golongan ini catat dari segi jama’ah dan mempertahankan jama’ah? 

Tidak!

Sekali lagi, kita harus katakan tidak.

Golongan yang mengaku Aswaja belum tentu Aswaja sungguhan. Golongan ini adalah golongan Aswaja palsu.

Benar-benar palsu! Karena Aswaja asli tidak mengkafirkan, mensyirikkan dan membid’ahkan sebelum tahu betul detail masalah dan keilmuannya.

Alhasil, label Aswaja saja belum cukup karena ada “Aswaja Palsu”.

3. Orang Itu Harus As’ariyah

Kenapa harus Asy’ariah alias Asyairoh sebagai bentuk cinta Islam selanjutnya? Begini...

Bila mencintai Islam maka tentu mencintai Tuhan yaitu Allah.

Bagaimana bila ternyata Allah tidak disucikan zatnya dari unsur kemakhlukan seperti Allah duduk di kursi, Allah di atas arsy’, Allah terbang di atas nyamuk?

Apakah hal tersebut adalah bukti cinta pada Allah? Tidak!

Justru ini sebagai bukti penghinaan pada Allah yang sebagai Tuhan bukan makhluk.

Dengan demikian, ketika Imam Asy’ari menghadapi kelompok ekstrim kiri dan ekstrim kanan maka Imam Asy’ari membuat kaidah untuk melawan akidah mereka mengenai zat Allah.

Yang dihadirkan imam Asy’ari adalah justru untuk mengembalikan kepada aqidah generasi salaf.

Intinya:

  • Allah tidak terikat tempat
  • Allah tidak terikat waktu
  • Allah tidak terikan bentuk
  • Allah tidak terikan arah

Dari hasil kaidah mengenai zat Allah inilah sehingga membuat kaum Aswaja tidak mudah mengkafirkan dan mensyirikkan.

Juga, tidak membuat gambaran kemakhlukan mengenai hakekat ketuhanan Allah baik tempat, waktu, bentuk dan arah. Ini penting dikukuhkan karena sesuai generasi Salaf.

4. Orang Itu Harus Menerima Ajaran Tasawuf

Ada sebagian golongan yang tidak setuju alias anti pada praktik tasawuf karena dianggapnya ajaran bid’ah dan bisa membuat kafir.

Jelas, bila ada yang menolak tasawuf otomatis mereka secara tidak sengaja menolak akhlak Rasulullah. 

Bila menolak akhlak Rasulullah maka jelas ini bukan bukti mencintai Rasulullah. Bila tidak mencintai Rasulullah maka jelas tidak mencintai Islam.

Pada dasarnya tasawuf adalah untuk mendekatkan diri pada Allah sesuai tingkah-laku Nabi SAW, baik lahir maupun batin.

Namun ada orang yang ahli tasawuf menggunakan tasawuf yang menyimpang dari ajaran Islam. Memang kita akui, ada sebagian ajaran tasawuf yang menyipang dari ajaran Islam.

Jadi, perlu pelengkap terakhir.

5. Orang Itu Harus Bermadzhab dari Salah Satu 4 Madzhab

Baik menentukan hukum atau mengikuti hukum maka harus mengikuti salah satu dari 4 madzhab. 

Sebagai bukti cinta pada Islam maka harus mencintai ulama. Apa sih maksud mencintai ulama? 

Mengikuti metodologi dan fatwa-fatwanya. Karena kalau ingin seperti akhlak Rasulullah maka harus lewat pemahamam para ulama.

Memangnya cinta sekedar luapan perasaan? Tidak!

Orang yang mudah mengkafirkan karena mereka itu tidak mengikuti salah satu dari ulama 4 madzhab. Dan 4 madzhab ini adalah generasi Salaf.

Sekarang ini zaman fitnah. Bila memang tidak mengikuti salah satu dari 4 madzhab, mau ikut siapa? 

Mau kembali ke toko al-Qur’an dan Al-Hadist? Tidak bisa kecuali lewat ulama terpercaya.

Dan ulama terpercaya adalah ulama 4 madzhab yaitu Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Hambali.

***

Tanpa menggunakan 5 dasar di atas dalam pengakuan cinta terhadap Islam maka tidak dikatakan cinta Islam yang sesungguhnya.

Derajat kesesatan golongan yang tidak sempurna menerapkan 5 dasar di atas memang berbeda-beda sampai pada derajat “kafir”.

Setelah itu, buktikan rasa cinta pada Islam dengan menerapkan 5 dasar di atas dalam perbuatan sehari-hari...

Semoga bermanfaat.

Lanjut Baca: Berhijrah Sebaiknya Jangan Menunggu Tua

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Guru Profesional, Guru Penggerak, Blogger, Public Speaker, Motivator & Juragan Emas.

Posting Komentar untuk "Awas Keliru! Begini 5 Dasar dan Panduan Cinta yang Benar dalam Islam"