Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Asesmen Nasional 2021 dan Fenomena "Maju Mundur Cantik"

UN sudah dihapus dan tinggal kenangan, lalu datanglah sistem evaluasi pendidikan terbaru yang bernama Asesmen Nasional 2021. 

Sejak jauh-jauh hari, Mas Mendikbud Nadiem Makarim sudah mengabarkan bahwa Asesmen Nasional akan digelar pada Maret 2021 mendatang.

Tapi, sekarang Indonesia masih berkutat dengan pandemi, kan? Itu salah satu poin masalahnya. 

Bersandar dari pandemi, agaknya pelaksanaan evaluasi pengganti Ujian Nasional ini akan bersanding dengan fenomena “Maju Mundur Cantik”.

Asesmen Nasional 2021 dan Fenomena “Maju Mundur Cantik”
Ilustrasi Asesmen Nasional. Foto: Pixabay

Karena mungkin masih banyak orang yang belum paham sepenuhnya tentang apa itu Asesmen Nasional, pilihan untuk memundurkan gelaran Asesmen Nasional semakin digaungkan. Padahal di sisi lain, sosialisasi dari Kemendikbud terus dilakukan secara rutin.

Alasan agar Asesmen Nasional mundur agaknya bisa ditepis dengan sosialisasi, tapi P2G alias Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru berujar pandang bahwa sebaiknya asesmen ditunda saja.

Kepala Bidang Advokasi P2G Iman Zanatul Haeri menganggap negeri ini belum siap menggelar asesmen. Situasi pandemi belum bisa ditebak, anak-anak terbebani secara psikologis, bahkan tidak menutup kemungkinan adanya potensi komersialisasi.

Alasan yang masuk akal. Barangkali kita tidak bisa menyanggah terlalu banyak karena kenyataannya pelaksanaan PJJ saja penuh dengan kesemrawutan. 

Derajat optimalisasi dan efektivitas PJJ di masa pandemi rendah. Belum lagi bagi anak-anak kita yang terkendala mengakses layanan pendidikan dikarenakan tidak ada listrik, tidak ada televisi, tidak ada sinyal, tidak ada gawai, hingga tidak ada cukup biaya untuk membeli kuota internet.

Di daerah Jawa, barangkali bisa dikatakan bahwa akses pendidikan dapat direngkuh siswa secara mayoritas. Tapi di luar Jawa, kisahnya jadi berbeda. 

Hanya sedikit sekolah-sekolah yang lengkap fasilitasnya di jalan kota, sedangkan sisanya begitu berharap menggelar pembelajaran tatap muka.

Ini tantangan yang kompleks, kan? Iya, bahkan dari dulu. Masalahnya selalu begitu. Di Jawa maju duluan, syahdan, menyusul daerah di luar Jawa.

Gegara pusat pemerintahan berada di pulau Jawa? Entahlah. Tapi yang pasti, negeri ini terlalu luas sehingga pemerataan pendidikan sulit menemukan keniscayaan.

Di luar dari kompleksnya tantangan pendidikan, aku kira hadirnya Asesmen Nasional merupakan kabar baik bagi tiap-tiap satuan pendidikan di Indonesia.

Terserah mau menebar praduga bahwa Asesmen itu hanya nama lain dari “Ujian Nasional” atau malah memang benar-benar sistem evaluasi keren, yang pasti implementasinya belum ada. Baru rencana, tepatnya pada Maret 2021 nanti. 

Entah Asesmen Nasional 2021 digelar tepat waktu, entah malah tunda, aku rasa kedua jalan ini tetap baik. Atau, istilah yang enaknya adalah “Maju Mundur Cantik”.

Asesmen Nasional 2021 dan Fenomena “Maju Mundur Cantik”

Mengapa dikatakan Maju Mundur Cantik? Kita ulas alasan “Maju Cantik” terlebih dahulu, ya.

Asesmen Nasional 2021 dan Fenomena “Maju Mundur Cantik” (1)
Asesmen Nasional 2021 dan Fenomena “Maju Mundur Cantik”. Diolah dari Pixabay

Hematku, Asesmen Nasional bisa tetap digelar tepat waktu walaupun situasinya sedang pandemi. Alasannya?

Pertama, kita bersandar dari keterangan Mas Mendikbud baru-baru ini. Dalam kegiatan temu virtual saat ultah Slank pada hari Sabtu (26/12/2020) kemarin, Mas Menteri menegaskan bahwa Asesmen sama sekali berbeda dengan UN.

Asesmen Nasional jadi tidak menakutkan karena tidak ada bimbel khusus yang diperlukan untuk pengerjaannya. Kita sama-sama tahu, kan, betapa repot dan pusingnya anak ketika harus ikut belajar tambahan agar nilai UN mereka mencapai standar nasional?

Selesai! UN sudah tinggal kenangan, pun dengan orientasi nilai secara kognitif sebagai racun yang dibawanya. 

Sekarang ada Asesmen Nasional, yang orientasinya lebih kepada mendapatkan hasil mutu pendidikan di tiap-tiap sekolah secara keseluruhan. Bukan hasil alias nilai siswa secara personal, melainkan hasil evaluasi yang lebih kompleks.

Sebagaimana kita ketahui, di dalam Asesmen Nasional 2021 ada 3 instrumen utama. Mulai dari AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) yang lebih menekankan kognitif, lalu ada Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

(Selengkapnya, bisa baca: 3 Instrumen Utama Asesmen Nasional 2021)

Alhasil, secara khusus, orientasi penilaiannya tidak hanya kognitif, melainkan juga dari sisi karakter siswa dan sekolah pada umumnya.

Mengapa kok sekolah juga? Karena rencananya Asesmen Nasional bukan hanya melibatkan siswa sebagai peserta, melainkan juga guru serta kepala sekolah. Jadi, yang dievaluasi adalah pelaku pendidikan di sekolah secara keseluruhan.

Maka dari itulah aku sebut rencana Asesmen Nasional akan tetap “Maju Cantik” walaupun nantinya digelar tetap pada bulan Maret 2021.

Ketakutan yang hadir saat ini, seperti potensi beban psikologis yang lebih berat serta potensi komersialisasi, itu masih berdasarkan praduga semata. Padahal, secara teori jelas-jelas Asesmen Nasional itu berbeda dengan UN pada masanya, bahkan lebih mirip seperti survei.

Maksudku, Asesmen Nasional seperti yang ditegaskan oleh Kemendikbud, tidaklah semenakutkan UN serta ujian sejenis yang lebih menekankan kognitif. Karena Indonesia perdana menggelarnya, kita perlu coba dulu, baru kemudian melakukan pengembangan.

Meski demikian, pilihan jika rencana Asesmen Nasional 2021 dimundurkan juga tetap bijak alias “Mundur Cantik”. Alasannya, selain bersandar dengan pernyataan P2G tadi, Asesmen di tengah pandemi perlu dikaji lebih matang lagi.

Benar, aspek psikologis siswa sungguh harus diperhatikan. 

Dalam artian, jangan sampai sosialisasi tentang Asesmen Nasional yang sampai ke telinga mereka adalah sama menakutkannya dengan UN. Apalagi jika sekolah yang menekan siswa untuk mencapai target nilai-nilai tertentu, itu yang sangat bahaya.

Terang saja, di era pandemi, beban siswa bukan hanya belajar. Mereka juga sibuk melawan kebosanan diri karena susah bepergian, susah beraktivitas secara normal, serta sulit membagi waktu antara belajar dan kegiatan membantu orangtua.

Lagi-lagi semuanya adalah tantangan dan persoalan yang perlu dikaji lebih dalam. Sembari kian menggencarkan sosialisasi Asesmen Nasional tentunya.

Karena gelarannya adalah perdana, sungguh alasan yang masuk akal bila Asesmen Nasional harus terus dikembangkan. 

Kemendikbud bersama Mas Nadiem tak bisa bergerak sendiri. Mereka harus terbuka menerima saran. Itulah gunanya ada perkumpulan alias organisasi-organisasi pendidikan.

Nah, sampai di sini, menurutmu kegiatan Asesmen Nasional 2021 sebaiknya tetap dilaksanakan tepat waktu, atau lebih baik diundur saja?

Salam.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Asesmen Nasional 2021 dan Fenomena "Maju Mundur Cantik""