Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Follow Guru Penyemangat di Google News agar tidak ketinggalan tulisan terbaru tentang edukasi, materi belajar, dunia keislaman, soal ujian, motivasi, investasi emas, kesehatan dan fiksi. Klik di sini.
Gulir ke bawah untuk membaca artikel.

Cerpen Tentang Sedekah di Bulan Ramadhan: Antara Bahagia dan Sedih

Sobat Guru Penyemangat. Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ya!

Alhamdulillah pada bulan penuh berkah dan maghfirah di tahun ini kita kembali diberi kesempatan oleh Allah untuk melaksanakan ibadah puasa serta segenap amalan-amalan utama lainnya.

Selain Shalat Tarawih berjamaah dan bertadarus Al-Qur'an, amalan yang juga penting dan sangat dianjurkan di bulan Ramadhan ialah berbagi makanan.

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad bahwa Rasulullah bersabda, "barangsiapa yang memberikan makanan kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga."

Maka dari itulah, banyak dari umat Islam yang bersemangat bersedekah seraya berbagi makanan di bulan yang penuh ampunan ini.

Nah, Gurupenyemangat.com telah menyiapkan contoh cerpen bertema sedekah di bulan Ramadhan.

Cerita pendek tentang sedekah berikut berkisah tentang semangat berbagi takjil di bulan Ramadhan meskipun jauh dari keluarga.

Mari disimak ya:

Cerpen: Antara Bahagia dan Sedih

Oleh Fahmi Nurdian Syah

Kolak Sebagai Takjil Berbuka Puasa di Bulan Ramadhan
Kolak Sebagai Takjil Berbuka Puasa di Bulan Ramadhan. Dok. Sajiansedap.grid.id

Rintikan air hujan membasahi daerah Soco membuat tanah menjadi lembek dan beberapa daun berguguran mengikuti arus air hujan yang mengalir.

Sore yang lebih gelap dari biasanya itu tak membuat sekumpulan mahasiswa mengurungkan niatnya dalam mempersiapkan takjil di sekretariat FSI (Forum Studi Islam) yang akan dibagikan kepada anak yatim di panti asuhan. 

“Mau ke mana, Fah?” Gadis itu tak menggubris ucapan Hindun dan pergi begitu saja. 

“Tumben, Latifah seperti itu.” Lantas Hindun memasuki ruangan sekretariat. 

“Assalamu’alaikum. Ada yang bisa Hindun bantu?” kedatangan Hindun membuat Fatimah kaget ketika sedang menuangkan kolak ke gelas plastik.  

“Oh iya, Hindun bisa bantu bungkusin kolak yang di sana saja. Sama sekalian masukin sendoknya ke dalam kolaknya ya," ucap Fatimah yang masih sibuk mengisi beberapa gelas plastik yang kosong. 

Hindun menganggukkan kepalanya dan berpindah duduk di samping Fatimah.  

“Maaf aku telat datang, soalnya baru selesai kuis di kelas," ucap Hindun. 

“Iya gapapa kok, ini juga baru mulai nyiapin kok." 

“Semua totalnya 500 kotak kan?” tanya Hindun. 

“Iya 500," Fatimah mengonfirmasi pertanyaan Hindun. 

Ramadhan tahun ini memang masih dalam balutan suasana pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai, meskipun begitu tak membuat rasa empati menjadi hilang. 

Hindun kaget bukan kepalan ketika mengetahui orang tua Fatimah positif Covid. Tahun lalu Fatimah memutuskan untuk tidak pulang, karena ia berpikir akan menjadi Carrier yang menyebarkan covid ke keluarganya.

Tapi ternyata tahun ini ibu Fatimah harus melakukan isolasi di rumah sakit bersama ayahnya.  

Sekarang, Fatimah mestinya sudah menyelesaikan seminar proposal skripsi, akan tetapi terdapat halangan karena masih menyandang amanah di kampus.

Padahal Fatimah telah berjanji kepada orang tuanya lulus tepat waktu. Akan tetapi Fatimah tak bisa meninggalkan amanah ini. Untungnya ayah dan ibunya merestui itu. 

“Fat, aku perhatiin kamu melamun sedari tadi, ada apa?" Taslimah menyentuh bahunya pelan. 

Seketika lamunan Fatimah buyar. Ia baru sadar bahwa ditugaskan untuk membagikan takjil kepada anak yatim-piatu di panti.  

“Astaghfirullah, maaf," ucap Fatimah

Setelah selesai membungkusnya, para mahasiswa tersebut pergi menuju ke panti asuhan, jarak dari kampus memang tidak terlalu jauh.

*

“Kak aku nungguin.” Wajah polos si adik membuat Fatimah tersipu karena sempat membuatnya menunggu, padahal adik itu sudah menadahkan tangannya sedari tadi.  

“Eh iya, Dek, semoga berkah iya. Jangan lupa makan yang banyak, supaya cepat besar," ucap Fatimah sembari mengelus kepala anak itu, sampai bibirnya mengembang tipis. 

“Makasih, Kak.” Raut wajah anak itu tampak senang, lalu berlari kecil kembali ke tempat duduknya. Mata Fatimah masih memantaunya. 

“Yuk maju bagi yang belum! Antre yang tertib ya," kata Fatimah sambil mengayunkan tangannya ke mereka. 

“Aku kak," Seru anak-anak panti yang lain dengan antusias. 

"Sini! antre yang bagus ya.”

Rasa bahagia menyelimuti hati Fatimah. Meskipun ada sedikit rasa sedih yang muncul karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga di Ramadhan kali ini.

Akan tetapi, hal itu membuat Fatimah bermuhasabah diri. 

Di saat ada orang yang bingung berbuka dengan apa karena terlalu banyak pilihan makanan, ada mereka yang merasa bingung ingin berbuka dengan apa karena tidak ada pilihan sama sekali. 

Tanpa sadar tetesan air telah membasahi pipi Fatimah, ia mencoba menahannya tetapi tak terbendung juga. Ia pun memanggil Taslimah untuk menggantikan posisinya.

Taslimah melihat Fatimah yang meneteskan air mata, akan tetapi Taslimah tak ada satu pun pertanyaan yang keluar dari bibirnya. Ia hanya melihat Fatimah yang telah berlari kecil menjauh darinya.

~ Selesai ~

Pesan moral dari cerita pendek di atas adalah selagi kita masih mampu jangan lupa untuk bersedekah kepada orang yang tidak mampu, apalagi di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

.Lanjut Baca: Cerpen Menyambut Ramadhan di Kampung

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Cerpen Tentang Sedekah di Bulan Ramadhan: Antara Bahagia dan Sedih"