Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Follow Guru Penyemangat di Google News agar tidak ketinggalan tulisan terbaru tentang edukasi, materi belajar, dunia keislaman, soal ujian, motivasi, investasi emas, kesehatan dan fiksi. Klik di sini.
Gulir ke bawah untuk membaca artikel.

Cerpen: Sarung Ayah

Cerpen: Sarung Ayah

Oleh Inong Islamiyati

Ilustrasi Sarung Ayah
Ilustrasi Sarung Ayah. Dok. Ozy V. Alandika

Ayahku mempunyai sebuah sarung hijau dengan garis-garis berwarna ungu. Setiap hari saat hendak ke masjid, ayah pasti memakai sarung itu. Padahal ada banyak sekali sarung yang lain namun, entah kenapa ayah selalu memakai sarung itu saja.

Ayah baru mau menggunakan sarung lain, ketika sarung itu sudah terlalu kotor dan sedang dicuci oleh ibu.

Tetapi hanya sebentar saja. Saat sarung itu sudah kering, ayah langsung mengambil sarung itu dari tempat jemuran dan langsung memakainya lagi.

Pernah sekali aku bertanya pada ayah mengapa dia suka sekali menggunakan sarung tersebut. Ayah tersenyum, membuat aku bingung lalu dia berkata kalau sarung ungu itu mempunyai kenangan indah yang tak pernah bisa dia lupakan.

Meski warna sarung itu suda pudar dan mulai terlihat jelek, ayah seolah tidak peduli. Dia bilang, kalau sarung itu sudah robek dan tidak bisa dipakai lagi baru ayah akan membuangnya.

Jujur, aku jarang bicara dengan ayah. Sebagai anak perempuan tunggal, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan ibu dibandingkan dengan ayah.

Meski begitu ayah tidak pernah marah walau aku berbuat kesalahan sebesar apa pun. Dia hanya akan menasihatiku dengan tegas.

Di ulang tahun ayah tahun ini, aku ingin menghadiahkan ayah sebuah sarung baru yang bagus. Yang akan aku beli dari uang tabunganku sendiri. 

“Mahal sekali,” seruku saat pegawai toko memberitahu harga sarung yang tengah aku pegang.

“Kalau sarung yang merek ini memang mahal dik. Coba raba saja kainnya halus kan? Bahannya juga dingin dan lembut. Kalau mau yang merek biasa juga ada kok, mau lihat?”

Pegawai toko memperlihatkan banyak jenis sarung di toko miliknya. Bagus-bagus semua. Namun hatiku masih tetap tertancap pada sarung pertama yang aku pegang tadi.

Warnanya hijau dengan sedikit warna biru di pinggirannya. Bahannya halus dan sudah jelas bagus. Namun harganya luar biasa. Aku berpikir sejenak untuk bisa memutuskannya.

“Kak, begini saya tidak bisa bayar lunas semuanya. Saya baru bisa bayar setengahnya saja. Bolehkah kakak menyimpan sarung ini dua Minggu lagi? Nanti setelah dua Minggu, saya akan kesini lagi untuk mengambil sarung ini,” ucapku.

Pegawai toko itu diam sejenak lalu memerhatikan aku dari atas sampai bawah seolah kurang yakin.

“Tapi kamu pasti akan kesini lagi bukan?”

“Iya kak. Kalau Kakak tidak percaya, ini saya kasih setengah harganya sekarang. Saya berjanji, dua Minggu lagi saya pasti akan pergi kemari.”

Pegawai toko itu akhirnya setuju. Aku pun menyerahkan uang dan sang pegawai toko langsung menyimpan sarung itu ke tempat lain. 

Ketika baru sampai di rumah, aku dikejutkan dengan ayah yang marah pada ibu. Ibu terlihat sibuk membongkar lemari sambil mencari benda yang dicari ayah.

“Kamu yakin tidak mencucinya?” tanya ayah

“Tidak ayah. Oh iya, mungkin sarung itu tertinggal di mesjid. Tadi subuh ayah pergi ke masjid kan? Mungkin ada di sana.”

“Kalau ada di sana, ayah tidak akan langsung pulang Bu. Sudah ayah tanya juga sama petugas mesjid tapi mereka tidak tahu.”

“Ya sudah nanti ibu coba cari lagi. Sementara ayah pakai sarung yang lain dulu saja ya. Aku akan berusaha keras mencarinya.”

“Ya sudahlah,” seru ayah sambil tampak kesal.

Aku yakin sekali, ayah tidak suka memakai sarung yang lain. Namun apa boleh buat. Aku yang baru pulang sekolah, langsung membantu ibu mencari sarung ayah.

Ke mana saja kami mencari, sarung itu tetap tidak terlihat. Menurutku sarung itu akhirnya lelah juga dipakai ayah terus menerus sehingga dia lebih memilih pergi dengan tenang.

Hingga esok hari, sarung ayah tetap tidak terlihat. Ayah terlihat sedih.

Aku mencoba menghibur ayah dengan bercanda dengannya. Ayah hanya tersenyum padahal biasanya dia pasti tertawa kalau mendengar leluconku.

“Asya berangkat sekarang ya  ibu,” ujarku sambil memakai sepatu

“Kok pagi sekali sih Asya? Bukannya masih ada 30 menit lagi?” tanya ibu

“Tidak apa ibu. Asya harus berangkat sekarang. Dah ibu, Assalamualaikum,” ucapku sambil mencium tangan ayah dan ibu.

“Wa’ alaikumsalam, hati-hati Nak ya,” seru ibu dari depan pintu.

Tanpa memberitahu ibu, mulai hari ini sampai dua Minggu ke depan, aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.

Biasanya aku pergi menggunakan angkot, namun demi sarung untuk ayah aku rela melakukan ini. 

Apalagi sarung kesayangan ayah hilang sehingga aku ingin ayah mendapatkan sarung baru yang bagus dariku. Aku harap nantinya ayah akan suka memakainya.

Dua Minggu telah berlalu dengan cepat, segera setelah aku melunasi hutang sarung itu aku membungkusnya dengan kertas kado di kamarku. Di malam hari ketika ayah selesai mandi aku mengajak ayah pergi ke dapur.

“Selamat ulang tahun ayah!” seruku dan ibu

“Wah kalian berdua repot-repot. Ulang tahun ayah tidak perlu dirayakan.”

“Perlu dong ayah. Ayah selalu bekerja keras untuk kami. Maaf kami hanya bisa memberikan pesta kecil seperti ini,” ujar ibu.

“Terima kasih sayang,” balas ayah sambil mencium pipi ibu.

Segera setelah makan malam, aku memberikan hadiahku pada ayah.

“Wah, sarung baru. Asya dari mana kamu dapat uang? Setahu ayah uang jajanmu tidak besar.”

“Itu dari uang tabunganku dan uang angkotku selama dua Minggu ini. Maaf ayah ibu, Asya tidak jujur. Sebenarnya selama dua Minggu ini Asya pulang pergi dari sekolah dengan berjalan kaki demi membelikan hadiah untuk ayah. Asya harap ayah suka sarung ini,” ujarku sambil tersenyum dan ayah membalasnya sambil memelukku

“Pantas saja belakangan ini kamu selalu pergi sekolah pagi-pagi sekali ternyata karena ini,” seru ibu

“Iya Bu.”

“Terima kasih Asya sayang. Ayah berjanji akan memakainya,” seru ayah. Aku senang sekali mendengarnya.

Bagaimana kabar sarung ayah yang hilang hari itu? sampai hari ini aku pun tidak tahu. Aku rasa sarung itu memang ditakdirkan untuk hilang karena sudah pudar dan tua.

Aku harap meski sarung hadiah dariku tidak bisa persis sama seperti sarung ayah, sarung ini bisa ayah pakai kapan saja saat salat ataupun saat tidur.

*Selesai*

Lanjut Baca: Cerpen Ayah Cinta Pertamaku

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Cerpen: Sarung Ayah"