Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Tentang Seorang Penggembala dan Tiga Ekor Kambing

Cerpen: Seorang Penggembala dan Tiga Ekor Kambing

Oleh Fahmi Nurdian Syah

Cerpen Tentang Seorang Penggembala dan Tiga Ekor Kambing
Cerpen Tentang Seorang Penggembala dan Tiga Ekor Kambing. Gambar oleh Thomas G. dari Pixabay 

Pada suatu hari yang cerah, di desa terpencil terdapat seorang penggembala yang memiliki tiga ekor kambing ternak.

Kambing pertama bertubuh sangat kurus, tetapi ia sangat cerdas dibanding kambing yang lainnya, sehingga Sang penggembala tersebut pun menyayanginya dan tak akan pernah menjualnya. 

Kambing kedua memiliki tubuh yang sangat gemuk dan bersifat malas. Setiap sore hari, Sang penggembala selalu merasa kesusahan menggiring kambing yang satu ini untuk masuk ke kandang.

Dan yang terakhir, kambing ketiga ini berukuran paling kecil dibanding kambing yang lain, badannya yang kecil membuat si penggembala ingin untuk menggendongnya karena tubuhnya yang imut.

Pada suatu pagi, Sang penggembala akan memberikan makan kepada kambing-kambingnya. 

Penggembala itu mengambil dua ember, ember pertama, ia isi dengan rumput yang sedangkan ia taruh rumput sisa kemarin yang mulai menguning pada ember yang kedua.

Penggembala memberikan ember yang berisi rumput segar kepada kambing pertama dan ketiga untuk dimakan, sedangkan kambing kedua diberi ember yang berisi rumput lama. 

Mengetahui hal itu, Kambing kedua bersedih hati.

"Sungguh malang nasibku," ucapnya.

Melihat nasib kambing kedua, kambing pertama pun tertawa mengejek.

“Hahaha, benar. Nasibmu memang malang." Kambing pertama memperlihatkan gigi-giginya.

“Stt, tak sepantasnya berkata begitu," kambing ketiga membela. 

Hari sudah petang, waktunya ketiga kambing masuk ke dalam kandang, Sang penggembala itu tampak menggiring kambing-kambingnya.

Kambing pertama berjalan mendahului kambing kedua lalu menyenggolnya. Kambing kedua pun memperlambat dan kemudian berhenti berjalan.

"Ayo jalan, dasar kambing gendut," ucap Sang penggembala.

Sang penggembala pun mencari kayu dan memukulkan ke tubuh kambing kedua.

“Kambing pemalas, ayo jalan!" bentak Sang penggembala. Kambing kedua itu pun berjalan masuk ke dalam kandang dengan keadaan kaki yang sedikit terluka. 

Keesokan harinya, Sang penggembala melihat ada surat yang tergeletak di pagar rumahnya. Sang penggembala pun mengambilnya dan membuka surat tersebut. 

"Gagak milikku sering hinggap di pohon dekat rumahmu, ia merasa nyaman berada di pohon itu, hingga membuatnya jarang untuk pulang ke kandang. Suatu hari, Gagak itu menghampiriku dan mengeluarkan suara, ternyata ada sesuatu yang ingin ia tunjukkan, lantas aku mengikutinya sampai menuju ke kandang kambing milikmu."

Boleh Baca: Fabel Monyet yang Mungil

"Aku melihat ke dalam kandang itu, terdapat satu kambing yang dipukuli oleh satu kambing lainnya, sedangkan kambing yang berukuran kecil berusaha untuk menghentikan perbuatan jahat itu. Si kambing jahat memaksa kambing yang malang untuk meminum air sebanyak 7 ember sehingga membuat kambing yang malang itu nampak sangat gemuk."

"Ia juga menyuruh kambing yang malang untuk bersikap malas di hadapan anda. Seringkali kambing jahat mengisyaratkan kepada kambing yang malang untuk berjalan lambat dan bersikap malas ketika sedang digiring menuju kandang. Saya hanya merasa kasihan kepada kambing itu. Jikalau anda membutuhkan bantuan dari saya, bisa hubungi nomor di bawah ini." 

Si penggembala pun seketika langsung menghubungi sang pengirim surat untuk datang ke rumahnya. Tak lama kemudian, tibalah sang pengirim surat di rumah Sang Penggembala.

"Terima kasih telah memberitahuku hal ini," ucap si penggembala.

“Sama-sama, saya hanya merasa kasian kepada kambing yang malang itu,” jawab Sang pengirim surat. 

Setelah itu, si penggembala dan si pengirim surat berjalan menuju ke kandang kambing dan diambillah kambing pertama. 

"Haha, selamat tinggal dua kambing yang bodoh, aku pasti akan diberi makan banyak oleh tuan” ucap Kambing pertama.

Kemudian kambing pertama itu dibawa menuju halaman belakang rumah Sang penggembala. Kambing pertama itu pun tak pernah menyangka jika ia akan dijadikan santapan makan malam oleh sang penggembala dan si pengirim surat.

Kambing pertama tak dapat melawan, ia pun hanya bisa pasrah.

Keduanya pun menikmati santap malam itu dengan berbincang untuk saling mengenal lebih jauh satu sama lain. Sedangkan kambing kedua dan ketiga hidup dengan rukun di dalam kandang.

~ Selesai ~

Pesan moral dari cerita pendek di atas adalah berbuat jahat tidak akan membuatmu menjadi hebat di hadapan orang lain, tetapi justru membuatmu hina di hadapan orang lain.

Salam.

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Cerpen Tentang Seorang Penggembala dan Tiga Ekor Kambing"

Promo Cashback & Voucher Shopee