Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Pendek Tentang Idul Adha 1442 H Tahun 2021 di Tengah Pandemi Corona

Cerita Pendek Tentang Idul Adha 1442 H
Cerita Pendek Tentang Idul Adha 1442 H. Dok. Gurupenyemangat.com

Alhamdulillah, barakallah! Bagaimana kabarmu hari ini, Sahabat Guru Penyemangat? Sudah ukur tensi darah atau belum? Jangan-jangan sudah naik menjulang! Eh

Mohon maaf lahir batin, ya. Gara-gara Idul Adha admin sering keseleo lidahnya. Sensitif, karena beberapa waktu ini terus berdatangan kiriman daging kambing, kerbau, dan sapi [fotonya].

Sungguh nikmat, ya rezeki dari Allah pada momentum Idul Kurban tahun 2021 kali ini. Meskipun pandemi terus membuat langit semakin mendung, tetapi semoga tidak mengurangi semangat kita dalam berbagi.

Termasuk juga di sini Gurupenyemangat.com bakal menghadirkan cerita pendek tentang Idul Adha 1442 H.

Mengapa kok dibikin cerpen?

Banyak cara untuk memetik hikmah Idul Adha 1442 H, termasuk juga bagaimana merefleksikan nilai-nilai ibadah Kurban dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya? Bisa dengan membaca cerita pendek inspiratif.

Nah, cerpen berikut bakal berkisah tentang sekumpulan sandal baru dan si keset kaki yang mulai kesepian selama Idul Adha 1442 H. Silakan langsung disimak saja, ya:

Cerpen Singkat Tentang Sekumpulan Sandal Baru dan Keset Kaki yang Kesepian Saat Idul Adha

Cerpen Kisah Sekumpulan Sandal Baru dan Keset Kaki yang Kesepian Saat Idul Adha
Cerpen Kisah Sekumpulan Sandal Baru dan Keset Kaki yang Kesepian Saat Idul Adha. Dok. Gurupenyemangat.com

Singsing fajar segera lenyap seiring dengan gema takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil yang sudah lebih dulu berkumandang.

Terlirik dari jauh, jamaah Subuh mulai beranjak kembali ke gubuk dan buru-buru untuk mandi, merapikan diri, menata hati, menyiapkan masker, dan menampilkan fisik dan jiwa terbaik di hadapan Sang Mulk.

Seperempat jam setelah jamaah bubar, tiba-tiba datanglah jamah Idul Adha pertama. Dari bisingnya langkah kaki, agaknya si Keset Kaki mengenal akrab si Bapak. Jamaah pun meletakkan sandalnya yang keriput dan segera masuk masjid.

“Hai, Sandal Keriput, buru-buru sekali datangnya. Perasaan tadi kulihat dirimu pulangnya terakhir?” Terang Si Keset Kaki

“Haha, iya, Set. Buru-buru nih si Bapak. Beliau ingin segera nyiapin sajadah imam dan menyapu lantai masjid. Jawab Sandal Kusut sumringah

Ternyata pemilik Sandal Keriput tadi adalah pengurus/marbot masjid. Selang beberapa saat, tibalah segenap rombongan Sandal Kayu yang kemudian parkir dengan rapi di samping Sandal Keriput.

“Ehh, Sandal Keriput, udah lama tiba? ” Ujar Sandal Kayu

“Belum terlalu. Ehh, bergegaslah Tuanmu masuk! Tuanku sudah tiba di dalam.” Terang Sandal Keriput.

“Yok, buruan dah. Silakan parkir di sini tuan-tuan Sandal.” Ucap Keset Kaki Menambahkan.

Ternyata pemilik Sandal Kayu tersebut adalah rombongan Bilal, Gharim, Amil Zakat, dan Imam Masjid.

Karena sudah sering bersua Keset Kaki, Sandal Keriput, dan Sandal Kayu sudah saling kenal dan bersahabat.

Sepuluh menit berlalu, terdengar kuat hentakan kaki datang dari arah samping masjid. Ternyata yang datang adalah rombongan tetangga yang mengenakan Sandal Mini.

“Hayoo buruan, kawan-kawan, aku mau takbiran, pake pengeras suara!” teriak Sandal Mini

“Sabar, Anak-anak, pelan-pelan! Rapi-rapi ya parkirnya, nanti hilang kan repot...”

Oalah! Ternyata yang datang adalah anak-anak warga yang rutin belajar mengaji di masjid tiap sore.

Lumrah saja Si Keset Kaki begitu panik. Namanya juga anak-anak, semangatnya tinggi, sering merusuh, dan tidak mau kalah.

Bahkan beberapa kali Si Keset Kaki terpaksa membersihkan jejak telapak kaki anak-anak yang masih basah karena air wudhu.

Sejenak hati ini semakin sejuk dengan alunan takbir, tiba-tiba terdengar suara mobil yang terparkir halus seraya mengklakson dari tepi jalan. 

Para pengurus seisi masjid berhamburan keluar. Keset Kaki pun sempat panik bin gusar. Sesaat dirinya menoleh, terlihat dari jauh kilauan ada Si Sandal Gunung yang perlahan berjalan, mencuci tangan, lalu melangkah dengan lembut menuju si Keset. 

Syahdan, tibalah Tuan Sandal Gunung ke dalam masjid.

”Hmmm. Assalamua’alaikum, Tuan. Dari mana, kah? Kok dirimu belum pernah liat?” ucap Keset Kaki

“Alaikumussalam, Mas, semoga sehat selalu. Oh ya, saya dari desa sebelah. Kebetulan Tuan saya diundang untuk mengisi Khutbah Idul Adha dengan tema pandemi covid-19di masjid ini.” Jawab Sandal Gunung seraya tersenyum

“Oalah. Okesiaap. Salam kenal, barakallah, ya... ”

Waktu terus berlalu, setengah jam sebelum Shalat Idul Adha digelar, tiba-tiba datanglah beberapa orang dengan wewangian menyengat serta dandanan yang mewah. Keset Kaki pun penasaran.

Dari jauh tampak Sandal Sepatu samar-samar menyilaukan, hingga tiba di dekat Keset:

 “Uhuy, Si Sandal Sepatu, ke mana aja kok lama tidak muncul? Terakhir saya cermati kaliandi waktu hari Jumat minggu lalu. Sibuk, kah?” Tanya Keset penasaran.

“Hmm. Saya juga maunya gitu, Tuan Keset. Tapi, ya, Tuan saya hanya bawa saya ke masjid hari Jumat saja. Tambah lagi dengan corona, kadang malah enggak. Cumalah hadir kala hari Idul Fitri atau hari ini saja.”

“Lah, terus pada hari-hari biasanya diajak ke mana, Tuan?”

“Hmm. Yang sering itu ke luar kota, sibuk tes swab, ngurusin vaksin, hingga rekreasi gitu, Tuan.”

 “Hemm, aku turut mendoakan semoga turun hidayah kepada Tuanmu.”

Sayup-sayup takbir mulai merendah, yang menjadi pertanda bahwa Sholat Idul Adha agak segera dimulai.

Tampak, dari sela-sela jendela sudut, Si Tuan Sandal Jepit mulai menata saf seraya memperingatkan aturan protokol kesehatan Covid-19 dan juga menyampaikan kabar keuangan masjid semenjak pandemi.

Sembari menyimak, Si Keset Kaki malah kaget setelah kemilau cahaya kuning dari kejauhan menembak matanya.

Tampak samar-samar ada seseorang dengan dandanan jas dan pakaian Fashionable bergelang dan berkalung emas putih. Wah, ternyata itu pasukan Sandal Slipper!

“Wah, selamat datang di masjid. Kita cek suhu dulu, ya. Baru perdana ke sini, kah?” Tanya Si Keset Penasaran.

“Hahaha, haduh. Masa engkau lupa sih. Enggak kok dek, Idul Fitri kemaren saya hadir, kok.” Jawab Si Sandal Slipper

“Waduhduhduh. Maaf kalo diriku lupa. Eh, Jumat kemarin enggak ke sini, kah?”

“Hmm. Enggak dek, kan corona merambah. Maksudnya Tuanku sibuk kerja, lembur.”

“Loooh, Jumat sebelumnya gimana tuh?”

“Hehe. Tuanku bobok siang soalnya kecapean kerja dek.” Jawab Slipper malu.

Beberapa menit kemudian, akhirnya pelaksanaan Shalat Idul Adha 1442 H digelar. Si Keset Kaki dengan sejuk menatap wajah keceriaan para jamaah yang bercampur dengan sedih.

Ya, wajah mereka tampak murung karena harus Shalat dengan jarak aman, serta memakai masker.

Walau begitu, masih ada secercah syukur karena para jamaah masih sehat dan diperbolehkan untuk Shalat Idul Adha berjamaah di masjid.

Khutbahnya pun pendek, tapi mengena dan membangkitkan semangat berkurban walau pandemi.

Para jamaah diajak untuk menggapai hakikat Kurban seraya meningkatkan ketulusan, keikhlasan dengan tetap rendah hati.

Seusai khutbah, tidak ada jabat tangan. Permohonan maaf hanya datang dari mulut ke mulut dengan suara rendah.

***

Demikianlah cerita pendek tentang Idul Adha di atas. Sedikit kita ulik, sebenarnya cerpen di atas mengurai fenomena tentang berbagai jenis orang dalam beribadah di dunia.

Ada sebagian dari mereka yang sudah istiqomah, ada yang masih setengah jalan, ada yang ibadahnya hanya dan jika sempat, bahkan ada yang ibadahnya hanya Idul Fitri dan Idul Adha saja.

Selebihnya? Wallahua’lam. Makanya Si Keset Kaki kesepian karena dulunya ramai anak-anak kecil, tapi sekarang setelah dewasa hanya sedikit dari mereka yang rela melangkahkan kaki ke masjid.

Akhir kata, doakanlah mereka yang belum mendekat ke masjid agar segera mendapatkan hidayah.

Selain itu, janganlah kita pandang seseorang dari rupa, dari pakaian, atau dari jenis-jenis sandal. Soalnya, yang Allah pandang dari setiap hamba hanyalah taqwa.

Salam.

Download Dokumen Word Cerita Pendek Idul Adha 1442 H pada link berikut:

[Download]

*Dilarang keras untuk memublikasikan ulang cerpen ini secara komersial

2 komentar untuk "Cerita Pendek Tentang Idul Adha 1442 H Tahun 2021 di Tengah Pandemi Corona"

  1. Secara fisik aku selalu dekaaaat dengan masjid, terkhusus dengan Mushola Aisiyah (mushola yang khusus utk perempuan). Namun, akunya on off utk shalat di situ. Terlebih belakangan ini. Sudah rajin ke mushola, eh, salah satu jamaah kena covid, aku off. Baru berangkat sehari, ada yang sakit lagi, aku off lagi. Aku rada ekstra hati-hati, sih. Sadar diri kalau pada dasarnya gak gitu bagus riwayat kondisi kesehatanku. Eaaalahh. Komentarku puanjaaaaang melebihi cerpennya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantab, Bu. Memang enakan off dulu ya Bu daripada muncul bertubi tubi prasangka. Hehe
      Tengkyuuuuu, Bu.
      🤩🤩

      Hapus

Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui.