Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pertanda Kiamat Sugra, Ketika Ilmu Dipelajari Oleh Orang-Orang Rendahan

“Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah ilmu dipelajari dari orang-orang rendahan.” HR. Ibnu Mubarak (Az-Zuhud) dan At-Thabrani. Dishahihkan oleh Al-Albani.

Setelah mengulik tentang diangkatnya ilmu pada unggahan sebelumnya, kali ini penulis akan menyuguhkan pertanda kiamat bagian 2, yaitu tentang ilmu yang dipelajari dari orang-orang rendahan. 

Meskipun sebagian orang memahami bahwasannya pertanda kedua adalah hal yang sudah pernah terjadi sejak lama, namun kedua tanda ini sejatinya sangat berkaitan, dan menurut M. Ahmad Al-Mubayyadh, tanda kedua yang dimaksud adalah penguat dari tanda-tanda lama.

Lafal “orang-orang rendahan” yang tertuang dalam hadis di atas memiliki makna orang-orang rendahan dan bodoh, bukan malah orang-orang yang masih belia.

Artinya, orang rendahan di sini ialah mereka yang mengaku alim ilmu, padahal tidak. Ibarat tong kosong nyaring bunyinya.

Selain itu, termasuk juga kepada mereka yang fasik, mereka yang malas menuntut ilmu kepada ulama yang fasih, sehingga mengindikasikan bahwa hari ini parameter keilmuan seseorang menjadi sulit untuk ditebak.

Gelar, setinggi apapun gelar, itu hanyalah tanda bahwa seseorang pernah sekolah.

Pertanda Kiamat Sugra, Ketika Ilmu Dipelajari Oleh Orang-Orang Rendahan
Pertanda Kiamat Sugra, Ketika Ilmu Dipelajari Oleh Orang-Orang Rendahan. Gambar oleh Mystic Art Design dari Pixabay
Ketinggian gelar itu tidak menjamin bahwa seseorang menguasai ilmu secara mendalam. Beruntung bagi mereka yang benar-benar berperilaku sesuai gelarnya, kalau tidak?

Bahkan, yang kemudian membuat dunia ini semakin dirundung dilema adalah, kebanyakan insan mulai menjauh dari perkara ilmu-ilmu murni dan lebih cinta terhadap ilmu-ilmu duniawi. 

Secara, ilmu duniawi lebih memudahkan jalan mereka untuh mencari uang. Padahal, surga Allah yang kita rindukan.

Pertanda ini sempat muncul setelah zaman Khulafaur Rasyidin, mencapai puncaknya pada masa Dinasti Abbasiyyah dan terus menjulang hingga hari ini.

Dr. Hajjaj Al-Khatib sempat mengungkapkan kisah ini dalam hubungannya dengan penyebaran hadis-hadis palsu di tengah umat Islam. 

Beliau menceritakan bahwa di ujung masa Khulafaur Rasyidin, muncullah diskusi-diskusi yang diikuti oleh penceramah dan ahli kisah. 

Sebagian di antara mereka tidak peduli lagi dengan kisah atau isi ceramah yang disampaikan, karena saat itu judul alias headline ceritanya saja yang dianggap penting.

Alhasil, mereka memalsukan berbagai hadis demi meraih simpati banyak orang.

Ketika ketimpangan ini terjadi, amat miris rasanya kita bila cerita bohong bin dusta ini dipercayai oleh sebagian umat bahwa apa yang disampaikan memang murni dari Rasulullah SAW.

Terlebih lagi sampai ada yang membela habis-habisan tentangnya. Padahal, itu hanya kebohongan.

Dalam Shahih Bukhari hadis nomor 5729 (Lihat: Fathul Bari Ibnu Hajar) diterangkan bahwa tempatnya seseorang yang berdusta atas nama Nabi ialah di neraka.

Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma'il] telah menceritakan kepada kami [Abu 'Awanah] telah menceritakan kepada kami [Abu Hashin] dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Namailah dengan namaku dan jangan kalian menjuluki dengan julukanku, barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sesungguhnya ia telah melihatku, karena syetan tidak dapat menyerupaiku, dan barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaknya ia mempersiapkan tempatnya di neraka."

Nauzubillah! Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang berdusta atas nama Rasulullah.

Sebagai tambahan, ada pula kisah tentang akibat dari ilmu yang dipelajari dari orang-orang rendahan.

Kisah ini dialami oleh ulama besar Ibnu Jarir Ath-Thabari yang disebut oleh As-Suyuthi dalam Tahdzir Al-Khawash min Akadzib Al-Qushash:

Salah seorang tukang kisah menetap di Baghdad. Dia meriwayatkan sebuat tafsiran atas ayat “Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” QS Al-Isra:14:79.

Dalam tafsirannya itu dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW duduk berhadapan dengan Rabb-Nya yang juga sedang duduk di atas singgahsana-Nya.

Sesampainya perkataan ini ke telinga Ibnu Jarir, beliau langsung mengingkari penafsiran seperti itu dan mengecamnya dengan keras.

Bahkan, beliau menulis surat yang kemudian dia tempelkan di depan pintu rumah orang tersebut, yang bunyinya: 

“Mahasuci Allah yang tidak mempunyai kekasih untuk berbagi, dan tidak seorang pun yang bersanding dengan-Nya di singgahsana-Nya.”

Alhasil, protes yang dilakukan beliau menuai kemarahan dari orang-orang Baghdad.

Mereka melempari rumah beliau dengan bebatuan sehingga beliau menahan pintu rumahnya dengan tonggak kayu dan beliau benar-benar merasa tersiksa atas gangguan mereka ini. (Dikutip dari M. Ahmad Al Mubayyadh dari As-Shiba’i, As-Sunnah wa Makanatuha fi Tasyri’ Al Islami).

Jujur saja, kita cukup ngeri dengan keadaan hari ini, yaitu ketika ilmu dipelajari oleh orang-orang rendahan dan kemudian orang itu saling merendahkan antara satu dengan yang lainnya.

Jelas ini perkara yang memusingkan. 

Ilmunya sudah mulai samar karena tidak dipelajari secara utuh, dan adab terhadap ilmu mulai luntur karena nafsu yang membabi buta.

Tinggal menunggu waktu, karena pada akhirnya, sebagai pertanda dari kiamat sugra yang sudah sangat jelas, satu ilmu akan dipelajari oleh mereka yang bukan ahlinya.

Wallahua’lam bissawab.

Lanjut Baca: Bencana Gempa Bumi yang Masif Sebagai Pertanda Kiamat

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Menulislah untuk menebar manfaat kepada seluruh alam, karena menuangkan kata-kata juga merupakan jalan ninja menuju kebaikan.

Posting Komentar untuk "Pertanda Kiamat Sugra, Ketika Ilmu Dipelajari Oleh Orang-Orang Rendahan"

Promo Cashback & Voucher Shopee