Widget HTML #1

Kumpulan Puisi Tentang Lucunya Negeri Ini

Kumpulan Puisi Tentang Lucunya Negeri Ini
Lucunya Negeri Ini. Gambar oleh DarkmoonArt_de dari Pixabay

#Puisi 1: Tikus Berdasi dan Lakon Tentang Lucunya Negeri Ini

Lihatlah mereka!
Sekumpulan tikus berdasi
Yang gila dalam berimprovisasi
Menggunakan akal meninggalkan hati nurani
Merusak seribu hati hanya untuk satu materi

Lihatlah mereka!
Wakil wakil yang sedang tertawa ria di balik banyak aksi
Dari rakyat kecil menjadi memiliki pangkat namun tak tahu diri

Minum secangkir kopi
Bercanda ria
Sedang menonton bioskop demonstrasi katanya di arena diskusi

Lihatlah mereka!
Sembari tertawa berkata membuat sebuah rancangan
Sedang membuat lakon tentang lucunya negeri ini
Dengan banyak aturan

Membiarkan maling sendal dihukum mati
Korupsi dibiarkan berbangga diri hingga diajak berlibur di Bali

Lihatlah mereka!
Dibiarkannya boneka ini mendekap di jeruji besi
Sedang dia memakan kelabang sembari menonton voli di pantai Losari

Dibuatnya jeritan tentang kejamnya negeri ini
Sedang dia tertawa mendengar monolog tangisan lara Ibunda Pertiwi

Tidakkah kau ikut tertawa?

Puisi Karya: Khairia Nurlita


#Puisi 2: Peringatan Kepada Para Pengkhianat

Tenggelam ukiran yang usang
Menerbitkan lembar kosong membingungkan
Datang menuju kebaikan
Demi menghilangkan sebuah kesesatan

Berlindung di tempat kehancuran
Di antara kesesatan yang melamlau pikiran
Dianugrahi keajaiban tiada sapa menanding
Dari Sang Maha Raja pencipta insan pendosa

Sihirnya ialah keajaiban
Kekuatannya menandingi kehancuran
Tongkatnya ialah anugrah
Hadirnya adalah kebaikan

Laut merah menjadi saksi
Di mana tentara berbaris-baris
Menghina dan mengancam dengan fasih
Tanpa tahu apa yang akan terjadi

Ditenggelamkan di laut darah itu
Dilenyapkan hinaan beserta para pembangkang
Dimusnahkan raja zalim pengaku Tuhan
Diberi peringatan kepada para pengkhianat.

Puisi Karya: Khairia Nurlita.


#Puisi 3: Ikrar di Persimpangan Tua

Tak terhingga waktu yang tiada hentinya menepak di persimpangan tua ini. Detik, menit, jam, dan meniti waktu tentang sebuah, yang entah aku pun tak tahu sanggup atau tidak kulalui.

Berputar di masa lalu, menjelaskan kepada cendrawasih yang senantiasa bertanya: Bagaimana? Bagaimana kerasnya keberanian mereka?

Banyak yang terjejer di garda kehancuran. Semerbak aroma darah bercampur tanah, Yang menusuk indra penciuman.

Sangat sangat memabukkan. Berembuk mereka. Di bagian kota yang layaknya tua, mati, dan enggan ditempati.

Mereka!

Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Himpunan Pelajar. Dari Sabang hingga Merauke berlayar di samudra persatuan di atas ikrar yang nyata.

Mereka!

Dengan tekad kuat mengikrarkan sesuatu tentang persatuan tanpa memperdulikan belati diacungkan depan matanya. 

Dengan lantang "Sumpah Pemuda!" Terucap tanpa gemetar. Hanya ada tujuan untuk kemerdekaan. Dengan semangat menyuarakan peringatan seakan tak kenal apa itu mati.

Tepat terngiang di batin pribumi. Kejamnya masa itu. Kelamnya waktu itu. Berkobarnya semangat hati. 

Melodi menyakitkan saat itu. Saat di mana perjuangan baru saja dimulai. Saat di mana terciptanya sebuah pengorbanan. Saat dicmana tercetusnya kenangan tentang 'Dua Puluh Delapan Oktober'.

Puisi Karya:   Khairia Nurlita.


#Puisi 4: Rentetan Ranjau Kecil

Tidak punya waktu istirahat, bergerak, bergerak, dan bergerak melampaui peradaban. Naik semakin tinggi melampau hingga langit ketujuh. Berlayar di laut api, menahan perih tentang betapa tumpulnya besi.

Di hutan nan luas, kunci nan ranjau menyatu layaknya melodi. Jalan serupa hancur menyuarakan sebuah harmoni, Berjalan dan berlari menempuh rintangan, menganggap tempat tak dihuni. Karena isinya penuh dengan makhluk dengan bibir bagai tirani.

Kutegapkan kepala, Lampaui gunung, seberangi sungai, Menghantam perangkap, merayap di lautan luas. 

Semua mata tertuju padaku!
Harimau sebutanku!
Menaklukkan dunia baru hingga menjadi milikku. Di mana peta memanggil pulau. 

Liar dan ganas!
Masih meragukanku?

Tak guna lagi cercaanmu!
Kuserang dengan kejam layaknya Hansel and Gretel!

Tak berpengaruh lagi hinaanmu!
Layaknya Tinkerbell terbang tanpa batas, berlayar nir hambatan jalan hatiku! 

Menggapai harapan hingga menjadi kejayaan. Melirik kiri-kanan dengan tatapan membanggakan. Berhadapan dengan nyamuk kecil yang tak lagi memekakkan. 

Menghancurkan lalat kecil yang menganggap menghadap kenyataan.

Puisi Karya: Khairia Nurlita

Baca juga:

Guru Penyemangat
Guru Penyemangat Guru Profesional, Guru Penggerak, Blogger, Public Speaker, Motivator & Juragan Emas.

Posting Komentar untuk "Kumpulan Puisi Tentang Lucunya Negeri Ini"